"OM AWIGNAMASTU NAMA SIDDHEM OM SWASTIASTU" SEMOGA SEMUA DALAM PERLINDUNGAN TUHAN, SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGHA BERMANFAAT.jangan lupa kunjungi videobsaya di link https://youtu.be/-UJdPDAjETM

7/01/2011

Beberapa Linkungan Pembentuk Moral Anak


Moral dan karakter anak terbentuk dari berbagai macam pola. Diantaranya adalah lingkungan disekitarnya. Berikut beberapa hal yang memperngaruhi pola, karakter dan perilaku moral anak dari tiga lingkungan utama; lingkungan rumah, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sebaya.

Lingkungan rumah

Perkembangan moral anak akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan keluarganya. Karenaya, keharmonisan keluarga menjadi sesuatu hal mutlak untuk diwujudkan, misalnya suasana ramah. Ketika keikhlasan, kejujuran dan kerjasama kerap diperlihatkan oleh masing-masing anggota keluarga dalam hidup mereka setiap hari, maka hampir bisa dipastikan hal yang sama juga akan dilakukan anak bersangkutan.

Sebaliknya, anak akan sangat sulit menumbuhkan dan membiasakan berbuat dan bertingkah laku laku baik manakala di dalam lingkungan keluarga (sebagai ruang sosialasi terdekat, baik fisik maupun psikis) selalu diliputi dengan pertikaian, pertengkaran, ketidakjujuran, kekerasan, baik dalam hubungan sesama anggota keluarga ataupun dengan lingkungan sekitar rumah.
Demikian pula status sosio—ekonomi. Status sosio-ekonomi, dalam banyak kasus menjadi sangat dominan pengaruhnya. Ini sekaligus menjadi latar mengapa anak-anak tersebut memutuskan terjun ke jalanan. Namun selain faktor tersebut (ekonomi), masih ada penyebab lain yang juga akan sangat berpengaruh mengapa anak memutuskan tindakannya itu, yakni peranan lingkungan rumah, khususnya peranan keluarga terhadap perkembangan nilai-nilai moral anak, dapat disingkat sebagai berikut:
  • 1) Tingkah laku orang di dalam (orangtua, saudara-saudara atau orang lain yang tinggal serumah) berlaku sebagai suatu model kelakuan bagi anak melalui peniruan-peniruan yang dapat diamatinya.
  • 2) Melalui pelarangan-pelarangan terhadap perbuatan-perbuatan tidak baik, anjuran-anjuran untuk dilakukan terus terhadap perbuatan-perbuatan yang baik misalnya melalui pujian dan hukuman.
  • 3) Melalui hukuman-hukuman yang diberikan dengan tepat terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik atau kurang wajar diperlihatkan, si anak menyadari akan kerugian-kerugian atau penderitaan-penderitaan akibat perbuatan-perbuatannya.

Pembelajaran Kontekstual

Definisi Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Kata kontekstual berasal dari kata Context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan konteks”. Sehingga pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : yang berkenenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna dan kepentingan.[1]

Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Manfaat Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari.[2]
Contextual Teaching and Learning yang umumnya disebut dengan pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (Meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi maupun kultural. Sehingga peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke permasalahan lainnya. [3]

Konsep Strategi Pembelajaran Kontekstual

Konsep dasar strategi Contextual Teaching and Learning adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menentukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami.
Pertama, Pembelajaran Kontekstual atau CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks pembelajaran kontekstual atau CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, Pembelajaran Kontekstual (CTL) mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga, Pembelajaran Kontekstual (CTL) mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaiman materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari – hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. [4]

[1] M. Mursid dan Saekhan. CTL dalam PAI. (http://samrit-amq.blogspot.com. Diakses 18 Desember 2008)
[2] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung:Alfabeta, 2005), hal. 88
[3] Nanang Hanafiah, & Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung:Refika Aditama, 2009), hal. 67

6/30/2011

CATUR MARGA


 
Berdasarkan dasar ajaran agama Hindu Panca Sradha, kita mengenal ajaran Moksa yang mempunyai makna kembalinya roh individu kepada Tuhan Yang Maha Pencipta. Dalam usaha perjalanan manusia menuju kepada Tuhan, ada empat jalan yang harus ditempuh yaitu Catur Marga. Catur artinya empat dan Marga artinya jalan. Jadi Catur Marga artinya: empat jalan yang harus ditempuh dalam usaha manusia menuju kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Empat jalan tersebut adalah Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Raja Marga.
1. BHAKTI MARGA
Bhakti Marga adalah usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa dengan jalan sujud bakti kepada Tuhan. Dengan sujud dan cinta kepada Tuhan Pelindung dan Pemelihara semua makhluk, maka Tuhan akan menuntun seorang Bhakta, yakni orang yang cinta, bakti dan sujud kepada- Nya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan menambah dan berdoa mohon perlindungan dan ampun atas dosa- dosanya yang pernah dilaksanakan serta mengucap syukur atas perlindungannya, kian hari cinta baktinya kepada Tuhan makin mendalam hingga Tuhan menampakkan diri (manifest) di hadapan Bhakta itu.
Tuhan memelihara dan melindungi orang yang beriman itu, supaya hidupnya tetap tenang dan tenteram. Jalan yang utama untuk memupuk perasaan bakti ialah rajin menyembah Tuhan dengan hati yang tulus ikhlas, seperti melaksanakan Tri Sandhya yaitu sembahyang tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan sore hari dan bersembahyang hari suci lainnya.
2. KARMA MARGA
Karma Marga berarti jalan atau usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa dengan melakukan kebajikan, tiada terikat oleh nafsu hendak mendapat hasilnya berupa kemasyhuran, kewibawaan, keuntungan, dan sebagainya, melainkan melakukan kewajiban demi untuk mengabdi, berbuat amal kebajikan untuk kesejahteraan umat manusia dan sesama makhluk.
Selain itu Karma Marga berhampiran inti ajarannya dengan Bhakti Marga, yaitu mengarahkan segala usaha, pengabdian kebijaksanaan, amal dan pengorbanan itu bukan dari dirinya sendiri melainkan dari Tuhan.
3. JNANA MARGA
Jnana Marga ialah suatu jalan dan usaha untuk mencapai jagadhita dan Moksa dengan mempergunakan kebijaksanaan filsafat (Jnana). Di dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan dengan kebijaksanaan itu, para arif bijaksana (Jnanin) melaksanakan dengan keinsyafan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang bersumber pada suatu sumber alam, yang di dalam kitab suci Weda disebut Brahman atau Purusa.
Di dalam Upanishad dijelaskan bahwa Brahman atau Purusa adalah sebagai sumber unsur- unsur rohani maupun jasmani semua makhluk dan sumber segala benda yang terdapat di alam ini. Brahman sebagai sumber segala- galanya mempunyai kekuatan yang dapat dikatakan hukum kodrat, atau sifatnya yang menyebabkan Brahman berubah menjadi serba segala, rohaniah maupun jasmaniah (sekala- niskala). Menginsyafi bahwa segala yang ada, rohani maupun jasmani, benda yang berwujud (Sthula) maupun abstrak (suksma) bersumber pada Brahman, maka para bijaksana (Jnanin) memandang bahwa semua benda jasmaniah (jasad) dan wujud rohani (alam pikiran dan sebagainya) yang timbul dari Brahman adalah benda dan wujud yang bersifat sementara (relatif). Hanya sumbernya yaitu Brahman (Siwa) Yang Maha Agung yang sungguh- sungguh ada dan mutlak (absolut).
Dengan kebijaksanaan (Jnana) mereka dapat mencapai dharma yang memberikan kebahagiaan lahir batin dalam hidupnya sekarang, di akhirat (Swarga) dan dalam penjelmaan yang akan datang (Swarga Cyuta). Andaikata rahmat melimpah akhirnya mereka dapat menginjak alam Moksa yaitu kebahagiaan yang kekal, yang menyebabkan roh (Atma) bebas dari penjelmaan.
4. RAJA YOGA MARGA
Raja Yoga Marga ialah suatu jalan dan usaha untuk mencapai Jagadhita dan Moksa melalui pengabdian diri kepada Sang Hyang Widhi Wasa yaitu mulai berlangsung dan berakhir pada konsentrasi.
Dalam arti yang lebih luas yoga ini mengandung pengertian tentang pengekangan diri. Dengan pengendalian diri yang ketat, tekun dalam yoga, maka persatuan Atman dengan Brahman akan tercapai.
Demikianlah tattwa Hindu Dharma. Tidak terlalu rumit, namun penuh kepastian. Istilah- istilah yang disebutkan di atas janganlah dianggap sebagai dogma, karena dalam Hindu tidak ada dogma. Yang ada adalah kata- bantu yang telah disarikan dari sastra dan veda, oleh para pendahulu kita, agar lebih banyak lagi umat yang mendapatkan pencerahan, dalam pencarian kebenaran yang hakiki.

Annaprasana Samskara


Annapatennasya no dehyanamivasya susminah,
Prappra datarantarisa urjan no dehi dvipade catuspade.
(Yajurveda: 11-83)
Oh Tuhan, sumber dari segala makanan, berikanlah (dehi) kami (nah) makanan (annasya) yang bergizi (susminah) dan tidak mengandung bibit penyakit. Jauhkanlah dari segala duka (tarisa) mereka yang membagi-bagi makanan (prapdatara). Berikanlah (dehi) kekuatan (urjam) kepada manusia dan semua hewan.
‘Oh Tuhan, Engkau adalah sumber dari segala makanan, berikanlah kami makan-makanan yang mengandung gizi dan tidak mengandung penyakit. Jauhkanlah kami dari segala duka dan berikanlah kekuatan kepada semua manusia dan hewan-hewan’.
Samskara ke tujuh adalah annaprasana samskara. Annaprasana samskara ini dilaksanakan saat anak berusia enam bulan, seperti disebutkan dalam Asvalayana Grhasutra 1-16-1: sasthe massi annaprasanam. Annaprasana, yang berarti makanan yang dimakan oleh anak pertama kali sejak kelahirannya. Dengan melaksanakan samskara tersebut, anak bisa disapih dari air susu ibu dan mulai diberi makanan yang lembut, misalnya bubur. Pada usia enam bulan biasanya anak sudah mulai tumbuh gigi sehingga makanan halus yang diberikan bisa dicerna dengan baik dan sedikit demi sedikit bisa disapih, karena bila ibu terus-menerus menyusui kesehatannya bisa terganggu.
Samskara tersebut perlu dilaksanakan karena dalam Veda ditulis: annam vai prana, yang berarti makanan adalah prana (napas) itu sendiri. Berkat makananlah pikiran dapat berkembang. Makanan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Makanan yang dimakan oleh seseorang berpengaruh terhadap pikiran. Jika dia seorang vegetarian (makanan sattvika), maka pikirannya juga sattvika (baik). Karena itu saat samskara tersebut dilaksanakan, anak yang berusia enam bulan bisa diberikan makanan sattvika dengan mengucapkan mantra dari Veda sehingga ia selalu makan makanan yang sattvika.
Di samping itu anak baik juga diberi madu dan susu. Dalam Ayurveda disebutkan bahwa madu dan susu penting bagi kesehatan anak. Dalam pelaksanaan upacara tersebut orang tua juga perlu mengucapkan mantra berikut: Om pranenannamasiya svaha, Om apanen gandhanasiya svaha, Om caksusa rupanyasiya svaha, Om srotrena yaso asiya svaha, (Paraskar 1-9-4), yang berarti semoga prana, apana, mata dan telinga selalu sehat dengan makan-makanan yang bergizi.
Dengan mengucapkan mantra di awal tulisan ini, makanan bisa diberikan kepada anak, mantra Annapate juga sebaiknya diucapkan oleh setiap orang sebelum makan. Menurut Veda, mantra yang perlu diucapkan sesudah makan adalah Om mo ghamannavam vindate apracetah satyam bravimi vadha itsa tasya, naryamanam pusyasti no sakhayam kevalagho bhavati kevaladi (Rg Veda 10-117-6), yang berarti orang yang makan sendiri tanpa membagi-bagikan kepada orang lain, berarti memakan dosa.

PSIKOLOGI DAN FILOSOFI HIDUP



Filosofi hidup hampir berkaitan dengan prinsip hidup. Semua
orang yang masih eksis mempunyai pegangan hidup, tujuan hidup,
prinsip hidup maupun filosofi hidup. Tentunya hal ini cukup berbeda
di antara satu dengan lainnya dalam menyikapinya. Karena, setiap
orang itu tidak sama, setiap orang itu unik, setiap orang merupakan
mahluk individualisme yang membedakan satu dengan lainnya.

Ada yang mempunyai tujuan hidup yang begitu kuat, namun
prinsip hidupnya lemah, atau sebaliknya ada orang yang mempunyai
tujuan hidup yang lemah, namun memiliki prinsip hidup yang kuat. Ini
tidaklah menjadi suatu permasalahan, yang penting seberapa baiknya
seseorang menyambung hidupnya dengan berbagai persoalan dunia yang
ada, atau dengan kata laiinya bagaimana kondisi psikologis/jiwa
seseorang dalam menjalani hidupnya.

Prinsip hidup masih jauh kaitannya dengan psikologi, namun
psikologi mau tau mau berhubungan langsung dengan prinsip hidup.
Karena, dengan menijau prinsip hidup seseorang dapat diketahui
kondisi jiwa seseorang. Prinsip hidup dan filosofi hidup sangat luas
cakupannya, tidak hanya ditinjau dari segi psikologi, tapi seluruh
cabang ilmu pengetahuan yang ada. Prinsip hidup seseorang dapat
diambil dari perspektif psikologi, agama, seni, literatural,
metafisika, filsafat dsb.

Bagi sebagian orang, filosofi hidup dapat dijadikan sebagai
panutan hidup, agar seseorang dapat hidup dengan baik dan benar.
Adapula sebagaian orang yang tidak menghiraukan apa itu tujuan hidup
dan filosofi hidup, ia hanya hidup mengikuti arus yang mengalir dan
sebagian orang lagi, terlalu kuat memegang tujuan hidup dan filosofi
hidupnya sehingga membuat ia menjadi keras dan keras, Jadi,
kesimpulannya ada 3 sifat manusia yang bisa ditinjau dari filosofi
hidupnya, yaitu orang yang lemah, orang yang netral dan orang yang
keras.

Orang yang lemah adalah orang yang tidak mempunyai tujuan hidup atau
prinsip hidup. Ia tidak tahu untuk apa ia hidup, ia tidak berusaha
mengetahui kebenaran di balik fenomena alam ini, sehingga terkadang
baik dan buruk dapat dijalaninya. Orang yang netral adalah orang
yang mempunyai tujuan dan prinsip hidup, tetapi tidak mengukuhinya
dengan terlalu kuat. Ia berusaha mencari kebenaran hidup dan hidup
dalam kebijakan dan kebenaran, ia bebas dan netral, tidak kurang dan
tidak melampaui, ia berada di tengah-tengah. Orang yang kuat adalah
orang yang memegang kuat tujuan dan prinsip hidupnya. Sehingga ia
mampu melakukan apa saja demi tercapai tujuannya. Ia terikat oleh
filosofinya, ia kuat dan kaku berada di atas pandangannya, ia merasa
lebih unggul dari orang lain dan melebihi semua orang.
Jika ditinjau dari sisi psikologi. Orang-orang yang di atas juga
dapat dikategorikan, seperti orang yang mempunyai jiwa yang lemah,
jiwa yang sedang dan jiwa yang kuat. Namun, untuk yang berjiwa
sehat, seseorang tidak hanya dilihat dari jiwa lemah, sedang ataupun
kuatnya. Penerapan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari
itulah yang penting.

Pada dasarnya, tujuan dan prinsip hidup seseorang itu baik dan
bersih. Pada saat seseorang dalam keadaan tenang, ia membuat
berbagai tujuan dan prinsip dalam hidupnya, namun ketika diterapkan
timbul beberapa hambatan dari luar dirinya atau adanya pengaruh dari
lingkungan eksternalnya. Salah satu pengaruh terbesar dari luar
dirinya adalah panca indera. Panca indera yang tidak terjaga dengan
baik akan membuat seseorang terpeleset dari tujuan dan prinsip
hidupnya. Telinga bisa mendengar, mata bisa melihat, mulut bisa
berbicara. Semua itu harus dikendalikan dengan baik.
Sebagai contoh konkret, saya mempunyai tujuan hidup menjadi
seseorang yang berguna untuk menolong semua mahluk hidup sampai ajal
menemui dan filosofi hidupnya adalah bila ada orang baik kepada
saya, maka saya akan baik kepadanya, dan bila ada orang jahat kepada
saya, maka saya akan baik juga kepadanya. Dari filosofi hidup ini,
jika dilihat dari sisi psikologinya, orang tersebut mempunyai jiwa
yang sehat, tidak mendendam dan bahagia menerima hidup. Namun, itu
hanyalah sebuah filosofi hidup, yang terpenting adalah bagaimana ia
menerapkan dalam perilakunya, apakah bisa sesempurna dengan filosofi
hidupnya atau hanya sekedar membuat filosofi hidup tetapi tidak
dijalankannya ataupun ia membuat suatu filosofi hidup, namun ia
susah menjalannya karena tidak bisa menahan godaan atau hambatan
dari luar dirinya.

Sebuah filosofi hidup bisa didapatkan dari seorang pemikir-pemikir
jenius yang bijaksana, bebas dan terpelajar. Biasanya orang tersebut
dianggap sebagai seorang filsuf, pelopor kebijakan. Masing-masing
negara memiliki tokoh filosofinya. Orang pertama yang memperkenalkan
filsafat hidup ke dalam ilmu pengetahuan adalah orang Yunani yang
kebetulan pada saat itu negaranya merupakan negara yang bebas dalam
berkarya. Terbukti begitu banyak para filsuf terkenal kebanyakan
dari bangsa Yunani, seperti Aristoteles, Plato dan Socrates.
Socrateslah yang paling banyak memberi pengaruh kepada dunia ilmu
pengetahuan, maka dia disebut Bapak Filsafat. Sedangkan, dari ilmu
psikologi, Bapak Sigmud Frued disebut-sebut sebagai Bapak Psikologi
yang paling banyak memberikan sumbangsih terhadap ilmu pengetahuan.
Kedua tokoh dunia ini sama-sama memiliki pemikiran yang luar biasa
untuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan mengenai asal usul dari
segala sesuatu, meskipun cakupannya berbeda, namun, psikologi dan
filsafat tidak bisa dipisahkan dan sebaliknya. Banyak tokoh
psikologi yang semula mempelajari filsafat kemudian melanjutkan
pengetahuannya ke bidang psikologi.
Beberapa kata kutipan yang diambil da
ri kedua tokoh ini, yakni :

" Makanan enak, baju indah, dan segala kemewahan, itulah yang kau
sebut kebahagiaan, namun aku percaya bahwa suatu keadaan di mana
orang tidak mengharapkan apa pun adalah kebahagiaan yang tertinggi
(Socrates)".
Dan,

" Mereka yang percaya, tidak berpikir. Mereka yang berfikir, tidak
percaya (Sigmud Frued)".

Disini dapat dilihat, bahwa terjadi suatu studi banding antara kedua
ilmu tersebut, Masing-masing membicarakan asal asul segala sesuatu
menurut perspektif ilmunya. Namun, dari kedua ilmu tersebut
mempunyai suatu kesamaan, bahkan banyak kesamaan yang membahas
mengenai asal mulanya sesuatu yang pasti ada hubungannya dengan
manusia dan alam sekitarnya.

Seorang Socrates membicarakan kebahagiaan dan seorang Sigmund Frued
membicarakan pikiran, tentunya kedua hal ini mempunyai kaitan yang
cukup besar. Filosofi hidup yang diberikan oleh Socrates mengenai
kebahagiaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan Ilmu
psikologi yang diberikan oleh Sigmund Frued mengenai pikiran (alam
sadar atau alam bawah sadar) dapat dijadikan landasan seseorang
untuk mencapai kebahagiaan.

Oleh sebab itu, seseorang yang mempelajari psikologi maupun
tidak, harus memiliki satu tujuan hidup atau filosofi hidup agar
bisa berkembang, dan seseorang yang mempelajari filsafat maupun
tidak, harus memperhatikan apakah dan bagaimanakah agar filosofinya
dapat diterapkan dengan baik dan benar sehingga mempunyai
psikologis/jiwa yang sehat untuk maju dan berhasil.

"Jika seseorang tahu kebenaran yang mendasar tentang segala sesuatu,
maka itulah inti pengetahuan'.

Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan

          

     Sehubungan dengan jatuhnya Hari Raya Galungan pada hari ini di Bali, maka saya akan membahas sedikit sejarah mengenai Hari Raya Galungan. Semoga dengan ini mereka yang merayakan semakin mendalami makna yang sebenarnya dari Hari Raya Galungan.

     Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali.
Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi.
Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.
Artinya:
        Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
          Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu.
Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih.
Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan.
Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan).
Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
Makna Filosofis Galungan
         Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
         Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Artinya:
        Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang.
            Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata “Jawa” di sini sama dengan “Jaba”, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia.
Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing- masing).
Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata “bali” dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
         Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan “nirmalakena” (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
          Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi.”
         Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut “pamyakala lara melaradan”. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
            Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa “kadirghayusaan” yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkanmenghaturkan canang मरका dan “matirta gocara”. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
(Sumber: Buku “Yadnya dan Bhakti” oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

6/29/2011

PIDARTA BASA BALI

(1)
BASA BALI PAMIKUKUH BUDAYA BALI

          Kaping ajeng, titiang ngaturang suksma ring pangénter parikrama antuk galah sané kapica ring titiang, sajeroning acara puniki.Ida dané sareng sami, pamekas para panuréksa saha angga sané dahat kusumayang titiang. Para panodya, pamilet, saha para siswa sané banget tresna sihin titiang .Sadurungé titiang nangiang atur, pinih riin ngiring sareng-sareng ngastiti bakti ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa kadulurin antuk panganjali,
                “Om Swastyastu”,
           mogi-mogi sangkaning sih pasuécan lan asung kerta wara nugrahan Ida, prasida titiang ngiring ida dané ipun ngmangguhang kerahayuan ring jagaté sekala yadian niskala. Ring galahé becik puniki titiang pacang ngaturang pidarta sané mamurda ”Basa Bali Pamikukuh Budaya Bali”.
Ida dané para atiti sareng sami sané wangiang titiang.
         Sadurungé titiang nunas pangampura pisan, duaning kadi prasangga purun titiang matur, mabah saparindik basa Bali pinaka silih tunggil pamikukuh budaya Baliné. Atur pawungu titiangé puniki waluya sakadi nasikin segara utawi nangiang sang sané sampun matangi. Ri antukan katambetan titiangé tur kantun wimuda pisan. Janten sampun atur titiangé puniki ”ngatak wayah” nongklang-nongklang, menawi nénten manut ring pakayunan ida dané sareng sami. Inggih asapunika meled taler manah titiangé ngamiletin pacentokan pidarta basa Bali sané kelaksanayang ring galah sané becik puniki.
Inggih pidaging titiang nawegang ring para atiti sareng sami.
Mungguing kawéntenan basa Baliné sampun lami pisan. Yan kaperang antuk undagannyané, basa Bali kepah dados tigang paletan; kapertama Basa Bali Kuno utawi Bali Aga, kaping kalih Basa Bali Tengahan utawi Kawi Bali, lan kaping tiga Basa Bali Kepara utawi Bali Baru, basa Bali sané tami iraga mangkin.
Yaning nganutin genahnyané, basa Bali punika kapérang dados kalih dialék, inggih punika, dialék Bali Aga utawi dialék pegunungan lan dialék Bali Dataran utawi dialék lumrah. Soang-soang dialek punika madué ciri sané matiosan.
           Madasar antuk wangsa lan linggih, basa Bali madué anggah-ungguhing basa. Anggah-ungguhing basa puniki nganutin wangsa utawi kasta para janané. Sané kabinayang antuk linggih sané kabaos Tri Wangsa (Brahmana, Ksatrya, lan Wésia) miwah linggih soroh jaba utawi sudra (jadma makéhan). Lian punika, anggah-ungguhing basa manut antuk linggih sakadi mangkin, metu golongan anyar sane sane kawangun madasar antuk linggih sosialnyane ring masyarakat modern, sekadi soroh pejabat miwah jadma sugih. Nganutin anggah-ungguhing basa, basa Bali kapérang antuk Basa Bali Alus, Basa Bali Madia, lan Basa Bali Kasar.
         Manut undagan basa puniki nyihnayang basa Bali madué akéh pariasi ring kahanan, sané sampun kanggén saking riin olih para panglingsir iragané ring Bali pinaka basa ngarahina, mabligbagan, ring pauman, ring genah makarya, ring soang-soang kulawarga, lan pangénter yadnya ring parhyangan. Gumanti akéh pisan kawigunannyané sané siosan.
Inggih pidaging titiang nawegang ring para atiti sareng sami.
Kasujatianipun, sapunapi paiketan basa kalawan budayané?
Basa pinaka piranti sané kanggén para janané maolah rasa berkomunikasi lan bekerja sama sareng jadma tiosan ring masyarakat. Lianan ring punika, basa pinaka sarana panglimbak budaya, kasuksmané tan pabasa kebudayan punika nénten ja sida ajeg lan lestari. Basa naler pinaka silih tunggil pahan saking kabudayan. Lianan ring basa wénten sistem mata pencarian, sistem peralatan, sistem masyarakat, sistem ilmu pengetahuan, agama, lan kesenian.
           Basa Bali pinaka pamikukuh budaya Bali. Raosé inucap prasida kaodar santukan kadi sane sampun kabaosang ring ajeng, tan pabasa nénten majanten budaya Baliné prasida ngalimbak lan sida ajeg ngantos mangkin. Yan umpamiang titiang budaya Baliné sakadi taru ageng. Basa Bali pinaka akah lan agama pinaka rohnyane. Kasenian, ilmu pengetahuan lan sane tiosan pinaka carang lan donnyané. Né mangkin yaning akahé usak, tuh, lan tan prasida ngalimbak, sapunapiang i taru punika sida maurip? Sinah sampun aas don miwah carang-carangnyané. Taler asapunika yan imbayang titiang ring budaya Bali iragané.
Napiké kayun ida dané yan budaya Bali iraga sané kabaos adi luhung puniki sirna? Sinah sampun sami nénten madué pikayun asapunika. Mangda nénten basa Baliné kebénjang pungkuran wantah dados basa ring lontar, ring sastra, ring sasuratan kémanten sakadi basa Kawiné. Ngiring ida dané sareng sami, égarang kayuné ngarajegang nganggén basa Bali pinaka basa iragané ngarahina. Yan ten iraga sira malih jagi ngajegang budayan iragané padidi. Ngiring sareng-sareng numbuhang jati diri pinaka nak Bali, mapan kadi baos panglingsiré dumun ”Basa ngantenang wangsa”. Sakadi tembang Baliné mangkin, ”Anak Bali, tiang nak Bali, mabasa Bali magending Bali. Dadi nak Bali, yen malali pasti mewali, mulih ka Bali,.......” . Asapunika kanti iraga gendingina, mangda éling iraga pinaka nak Bali.
Inggih pidaging nawegang ida dané para atiti sareng sami.
        Maosang indik nganggén basa Bali ring aab jagaté mangkin, sayuakti pisan sakadi sampun pada kauningin sareng sami. Napi malih sareng anom-anom rumasa kuno pisan. Nénten gaul kabaosang. Titiang néwék ngrasayang naler. Ri tatkala mapupul sareng timpal-timpal ring sekolah, satata nganggén basa Indonesia. Matakén nganggén basa Bali, kacawis nganggén basa Indonésia. Ngantos madué papineh maboya titiang ring kalanggengan basa Baliné riwekas. Rumasa sulit pisan, napi malih iriki ring kota, yan minabang ring désa-désa kantun anom-anomé mareraosan nganggén basa Bali. Nika naler basané wantah basa Bali andap, yan nikain mabaos nganutin anggah-ungguhing basa utawi masor-singgih sinah taler sampun kikuk, ngaku nénten bisa, jejeh, takut pelih ngaraos sareng anak lingsir. Makéh alasan ipuné.
        Nah, unduk sané baosang titiang ring ajeng iwawu mawinan titiang néwék mineh-minehang angga, ”Yan tusing iraga né mapauruk ngajak timpal-timpalé mabasa Bali, sinah ia tusing lakar nyak malajah basa Bali”. Jengah padéwékan titiangé mangda nénten kekaonang wangsa saking dauh tukad. Ipun ring Bali maburuh ngaruruh pangupa jiwa, yaning matemu sareng kantinnyané paturu wangsa, bangga pisan ipun magegonjakan nganggén basa ipuné. Nanging iraga ring Bali, paturu nak Bali mabaosan nganggén basa Indonésia. Indarang pinehin sareng sami.
         Punika mawinan, titiang prasangga purun ngentenin ida dané sareng sami, ngiring iraga bangga pinaka jadma Bali, kukuhang budayan iragané malarapan ngelestariang basa Bali pinaka pamikukuh budaya Baliné. Ida dané pinaka panglingsir ngiring mapauruk ring alit-alit duéné ring jero, ring gria, ring puri, mangda nganggén basa Bali pinaka basa ngarahina. Punika taler para anom-anomé sareng sami, ngiring mabasa Bali. Tumbuhang rasa banggan iragané nganggén basa Bali ring wangsa tiosan.
          Inggih, wantah asapunika atur pawungu titiang ring ida dane sinamian, dumogi wénten pikenoh ipun. Yan jagi pacang nyarca indik kawentenan basa Baline, gumanti akeh pisan. Atur titiange puniki wantah pinaka jalaran ngawetuang rasa banggan titiang, sutindih bakti ring wangsa antuk ngajegang kabudayan iragane. Menawi wénten atur titiang nénten manut ring arsa minakadi unjuk lungsur, anggah-ungguhing basa tan manut titiang nunas geng pangampura. Om hayu wredhi tatastu astu. Sineb titiang antuk parama santi.
        Om Santih, Santih, Santih, Om

 (2)
PIDABDAB NYANGGRA
"BALI CLEAN AND GREEN"
               Inggih, titiang ngaturang suksma banget ring pangénter parikrama acarané puniki, santukan sampun prasida  mapaica galah ring sikian titiangé, jagi matur-atur akidik ngeninin sapaindik pidabdab iraga krama Baliné nyanggra pikéling Sang Niti Praja utawi pemerintah pinaka Guru Wisésa, Sang Ngamong Rat jagat Baliné, pacang ngamargiang prongram: Bali Clean and Green sané sampun ngawit warsa kalih tali dasa (2010) puniki.
               Sadéréng titiang ngawit matur, lugrayang riin titiang ngaturang pangastuti ri jeng Ida Sang Hyang Widhi Wasa saha sembah panganjali,
Om Swastyastu !
Mogi-mogi sangkaning sih pasuécan lan asung kerta wara nugrahan Ida, prasida titiang ngiring ida dané ngemangguhang kerahayuan.
               Kaping ajeng atur titiang ring ratu para Niti Praja sané mapikarsain acarané puniki, taler para panuréksa, sané mustikayang titiang.
Guru Pengajian, sané dahat sungkemin titiang, para pamilet sané tan sidha titiang nyacah silih tunggil sané wangiang titiang, nénten luput taler para sisia sané sida ngrauhin, sané banget tresna sihin titiang.
Ring galahé becik puniki, titiang pinaka duta saking SMPN 2 Kuta Selatan, pacang ngaturang pidarta sané mamurda "Pidabdab Nyanggra Bali Clean and Green".
Ida dané para atiti sané wangiang titiang.
Sadurungé titiang matur indik daging parikraman titiangé puniki, titiang nunas pangampura pisan, duaning kadi prasangga purun titiang matur, mabah saparindik pemargi Sang Niti Praja ngamargiang program Bali clean and Green puniki. Umpamiang titiang atur pawungu titiangé puniki waluya sakadi nangiang sang sané sampun matangi. Ri antukan katambetan titiangé tur kantun wimuda twi, janten sampun atur titiangé puniki tuna pisan, menawi nénten manut ring pakayunan ida dané ipun.
Inggih pidaging titiang nawegang ring ida dané sareng sami.
Mawosang saparindik kawéntenan jagat Bali, tan ja telas-telas jagi kabligbagang ngarahina. Ngawit nyarca kaluihan ipun ngantos sekatah pikobet sané kekantenin.
Sira tan uning ring Bali? Sira sané tan meled malancaran ring Bali?
Sakadi sampun kauningin, kepariwisataan ring Bali sampun mawit saking riin daweg pemerintahan Welanda. Duk warsa siu sangangatus sasur (1935) ring Dénpasar kawangun Bali hotél, sané kantun rajeg kantos mangkin. Punika cihna tetamian kepariwisataan ring Bali. Taler kautaman kebudayaan Baliné sané rumaket ring agama Hindu, tur katampa antuk kaasrian gumi Bali, mawinan Bali puniki dados tatujon wisata sané sampun kaloktah ring dura negara. Akeh jejuluk sané kapicayang sakadi : "Pulau Seribu Pura", "Pulau Dewata", "Pulau Surga" muah sané siosan.
Sairing pamargi kepariwisataan ring Bali, pastika akéh pikenoh lan puaran ipun, wénten sané becik taler wénten sané kaon. Puara sané becik inggih punika ngruak genah makarya sané prasida ngirangin pangangguran, ngwéntenang genah makarya, mautsaha nincapang kawikanan, nincapang pikolih marupa artha, ngwerdiang tur madabdaban sahana seni lan budaya Bali. Puaran sané kaon, akéh para jana banjar utaminipun para daha truna maparisolah sané tan manut ring budaya utawi jati ragan wangsa, pangargan barang dados mael, lan sané pinih ngangenin ati makéh pisan tanah carik lan paabianan magentos dados sarana wisata.
Tan ja carik lan paabianan kémanten, ngantos abing, gunung lan alas kasuksuk, katlusuk, kakeruk dados genah wisata.  Lian punika, sairing ngalimbaknyané para janané, pastika sampun ngarincikang genah paumahan sané makéh. Ngancan cupek, ngancan kumel, ngancan panes, rasayang titiang genahé ring Bali. Napi malih ring perkotaan, sekadi Denpasar muah Badung. Lahan Hijau maruat dados paumahan, polusi udara nénten sida katambakin malih. Para janané masuksuk, maseluk, saling sikut, saling sunduk marebut genah sané tepuk.
Yan sampun sakadi asapunika pikobetnyané, napiké iraga pacang bengong nyaksiang kémanten?
Manut Réktor Universitas Udayana, Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD.(KHOM) sakadi sané kaketus saking koran Bali Post pinanggal telu likur (23) Pebruari kalih tali solas (2011), palemahan Bali sekadi wewidangan pesisi, danu, lan alas sané mangkin kahanannyané "memprihatikan". Gelisnyané panglimbak ekonomi sané nénten karencana pinaka wit uugnyané wewidangan iragané, tur ngawetuang sakatah pikobet ngeninin kalestarian jagat Baliné.
Menawita napi sané kabaosang olih Bapak Made Bakta punika madaging pisan, kirangnyané ulatian saking para janané mahawinan palemahan iraga ring Bali ngancan uug. Pamargi Tri Hita Karana, sané mapiteges tetiga pidabdab sane prasida ngametuang karahayuan jagat, inggih punika: Parahyangan, Pawongan, lan Palemahan. Utaminnyané sané mapaiketan ring pamargi Bali clean and Green puniki, inggih punika Palemahan, sané mapiteges janten wénten karang suwung, karang palemahan sané katandurin antuk wit-wit taru sané mapikenoh sajeroning kahuripan. Mangda nénten sami kagentosin antuk wewangunan beton, hotél, spa, ruko, saha pirantin ipun. Wewangunan kasidan magda kaanutang ring sejeroning pidabdab lan pangrencana sané sampun kasungkemin olih para jana Baliné, sajeroning peraturan daérah lan awig-awig désa adat. Pamarginé puniki nénten ja kanggén dasar malih ring ngalimbakang kahuripan. Sami mapaitungan magarangin ajengan asopan, ngantos lali ring swadarma ngalestariang jagat sané ngicénin mertha.
Nénten ja doh titiang ngarerehang wimba, sakadi ungkuran puniki, kirangnyané wewidangan sané ngisep toyan sabeh sawiréh eksploitasi hutan sané ngranayang nincapnyané toya ring danu Buyan. Taru-taru ageng makéh sané katebang, taler ngancan dakén danuné punika, santukan dasar danu makéh madaging mis (sampah) lan nyanyad sané kabakta olih toyan sabehé. Lian ring punika, wewangunan ring genahé inucap makéh timpas ring tata ruang Bali. Sakadi kawentenan vila, budi daya sané nénten nganggén terasering, lan pakaryan pertanian sané ngalanus ring pasisi danu. Napi malih wénten wicara sakadi ngaryanin piranti pariwisata ring duur danuné lan ring pasisi danu, sinah pacang ngawetuang uugnyané wewidangan irika. Sampunang sangkaning pariwisata sané ngawetuang jinah ngawé iraga lali ring palemahan.
Inggih pidaging titiang nawegang ring ida dané sareng sami.
Pidabdab Sang Niti Praja ngamargiang program Bali Clean and Green, provinsi sané bersih lan hijau puniki, gumanti patut junjung sareng sami. Mawit saking mangkin nincapang kalestariang jagat Bali iragané, saking patindak sané alit, sakadi nénten ngawag ngentungang mis (sampah) ring margi utawi ring telabah lan tukad, mangda nénten ngawetuang blabar rikala sabeh, mangda sida Bali iragané bersih. Taler majumu nandur tetaneman ring wewidangan pakarangan muah ring désa. Pamargi sané iwang sakadi penebangan hutan patut icalang. Ngiring sareng-sareng ngawéntenang reboisasi ring genah-genah sané gundul, turmaning yéning ngalaksanayang reboisasi utawi penghijauan, malarapan nandur tetaneman, mangdané kaplihara, kapreténin. Sampunang éling nandur kémanten. Sumangdané nénten nirguna utsahan iragané nandur. Yan sampun iraga sareng sami ngarencana, nénten ja sukil, sami pacang prasida mamargi dangan. Nénten dados iraga wantah ngandelang pamargi ring Sang Niti Praja utawi matunda sareng jadma tiosan kémawon.
Ring Sang Niti Praja, mangda kukuh ngamargiang PERDA (peraturan daerah) sané mapaiketan ring tata ruang Bali. Sampunang ulap ring jinah, mangda nénten sangkaning ngaptiang jinah pariwisata dados rusak palemahan iraga ring Bali. Punika taler para janané sami, mangda sareng-sareng celing nyagra pamargi Sang Niti Praja ngalaksanayang PERDA puniki, mangda nenten singsal ring raos lan laksana.
Inggih ida dané sareng sami.
Nyarca indik pidabdab nyanggra program  Bali Clean and Green puniki rumasa dahat akéh pisan. Sakéwaten titiang nguningayang i wawu wantah akidik, yan pupulang titiang inggih punika:
1.      Palemahan Bali sekadi wewidangan pesisi, danu, lan alas sané mangkin kahanannyané "memprihatikan".
2.      Pidabdab Sang Niti Praja ngamargiang program Bali Clean and Green, provinsi sané bersih lan hijau puniki, gumanti patut junjung sareng sami.
3.      Wewangunan kasidan magda kaanutang ring sejeroning pidabdab lan pangrencana sané sampun kasungkemin olih para jana Baliné, sajeroning peraturan daérah lan awig-awig désa adat.
               Pawungu punika pinaka jalaran anggén pinget gumanti ngulati pamargi sané becik, taler anggén pidabdab nincapang keasrian jagat Baliné kapungkur wekas sayan becik. Mogi-mogi rasa bakti, sutindih paramabéla ring wangsa, désa lan negara sayan-sayan nincap.
Sang Niti Praja, Para Panuréksa, guru-guru, miwah sisia sareng sami sané tresna sihin titing, asapunika atur titiang ngindikang minakadi Ngrajegang kasusilan, maka kirang langkung lan manawi wénten tan manut ring arsa, sekadi unjuk lungsur, anggah ungguhing basa, titiang nunas geng rena sinampura. Pinaka panguntat atur titiang antuk parama shanti,
Om Santih, Santih, Santih, Om!