"OM AWIGNAMASTU NAMA SIDDHEM OM SWASTIASTU" SEMOGA SEMUA DALAM PERLINDUNGAN TUHAN, SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGHA BERMANFAAT.jangan lupa kunjungi videobsaya di link https://youtu.be/-UJdPDAjETM

6/11/2011

Karma Phala dan Punarbhawa


PROSES PERPINDAHAN AMAT HALUS

Veda menyatakan bahwa proses perpindahan sang makhluk hidup (jiva) dari badan jasmani kasar lama yang telah usang dan rusak ke badan jasmani kasar baru dengan berkendaraan badan halus, adalah proses amat halus dan berada diluar pengamatan indriya-indriya jasmani kasar.

Perpindahan tersebut, kata Veda, adalah bagaikan perpindahan si ulat dari satu lembar daun ke lembar daun lainnya. Sebelum melepaskan daun yang ditempatinya, si ulat sudah berpegangan pada daun lain yang hendak di tempati.

Begitu pula, sebelum meninggalkan badan jasmani kasar lama, sang jiva sudah masuk (=berpegangan) ke badan jasmani halus tertentu yaitu pikiran (manah) yang telah dimuati mentalitas tertentu sesuai dengan karma (kegiatan) yang paling disenangi dan paling sering dilakukan dengan badan jasmaninya sekarang.

Keadaan mentalitas pikiran atau macam kesadaran pada saat ajal menentukan jenis badan jasmani kasar berikutnya yang akan dihuni oleh sang jiva.

Pikiran yang dimuati mentalitas tertentu di-sebut paham hidup. Dan paham hidup ini adalah kumpulan keingingan, minat, dambaan, kemauan, kehendak,kesukaan, tabiat, prilaku, watak, sifat, perangai, pola dan cara menikmati. Semua ini terbentuk dalam pikiran.

Veda menyatakan, “Srotam caksuh sparsanam ca rasanam ghranam eva ca adhisthaya manas cayam visayan upasevate, sang makhluk hidup mengembangkan jenis indriya pendengar, penglihat, pengecap, pencium dan perasa tertentu yang semuanya ter-kumpul dalam pikiran.Begitulah kemudian ia memperoleh badan jasmani kasar baru tertentu untuk menikmati obyek-obyek indriya tertentu pula”(Bhagavad Gita 15.9).

Selanjutnya Veda menyatakan,“Manah karma mayam nrnam, kondisi pikiran sang manusia ditentukan oleh akibat (phala) perbuatan (karma) yang dilakukannya. Indriyaih pancabhir yatam lokal lokam prayatyanya atma tad anuvartate, bersamaan dengan ke-lima indriya persepsi, pikirannya berpindah dari satu badan jasmani kasar ke badan jasmani kasar lain, dan sang jiva ikut pula ber-pindah bersama nya” (Bhagavata Purana 11.22.37).

Dan Sri Krishna sendiri berkata, “Sang makhluk hidup (jiva) yang jatuh ke dunia fana, membawa serta bermacam – macam paham hidup bersama dirinya dari satu badan jasmani kasar ke badan jasmani kasar lain, vayur gandhan iva sayat, bagaikan angin membawa aroma” (Bhagavad Gita 15.8).


EVOLUSI SPIRITUAL

Veda menyatakan bahwa sesuai dengan macam dan intensitas asubha-karma (perbuatan berdosa) yang dilakukannya, sang jiva berjasmani manusia bisa merosot dengan lahir sebagai anjing, kadal, tikus atau makhluk rendah lain.

Setelah menjelma sebagai ikan, maka sang jiva harus lahir berulang-kali dalam berbagai jenis kehidupan yang lebih tinggi sebelum pada akhirnya kembali memperoleh badan manusia. Ini disebut evolusi spiritual yaitu sang jiva berangsur-angsur (pelan-pelan) merobah kesadarannya dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi dengan berganti-ganti badan jasmani mulai dari berbagai badan jasmani akuatik, tanaman/pohon, serangga, burung, binatang dan akhirnya badan jasmani manusia;
Photobucket

Jadi menurut teori evolusi spiritual Veda, sang jiva yang rohani-abadi tidak pernah berubah meskipun berganti-ganti badan jasmani. Dan beraneka-macam badan jasmani yang telah pernah di huninya, sudah ada sejak terciptanya alam semesta material ini dan wujud serta bentuknya pun tetap sama, tidak pernah berobah.

Karena itu dikatakan bahwa evolusi spiritual ini adalah rangkaian perpindahan sang jiva dalam jutaan kondisi kehidupan (badan jasmani) berlain-lainan yang menyengsarakan belaka.

Evolusi spiritual ini harus dijalani oleh setiap jiva berjasmani manusia yang salah/keliru menggunakan jasmani manusianya yaitu bukan untuk berbhakti kepada Sri Krishna, tetapi untuk mengejar kesenangan material dunia fana yang semu, khayal dan sementara.

Proses evolusi spiritual Veda tersebut diatas dapat diringkas sebagai berikut;
Photobucket

PHALA TEMPORER DAN PHALA PERMANEN

Kegiatan (karma) materialistik pamerih memuaskan indriya jasmani agar hidup bahagia di dunia fana yang dilakukan oleh orang-orang yang tergolong Asura, memberikan hasil (phala) temporer. Kesenangan yang timbul dari kontak antara indriya jasmani dengan obyeknya yaitu beraneka macam barang kebutuhan hidup, berlangsung sebentar saja dan tidak sungguh-sungguh memuaskan.

Kegiatan (karma) rohani mengendalikan indriya-indriya badan jasmani dan menyibukkannya dalam pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, memberikan hasil (phala) permanen. Dikatakan, “Nehabhikrama-naso’ sti pratyavayo na vidyate, dalam menempuh jalan spiritual ini, tidak ada kerugian atau pengurangan. Svalpam apy asya dharmasya trayate mahato bhayat, kemajuan yang sedikit saja dalam jalan spiritual ini akan menjauhkan orang dari mara-bahaya paling besar”(Bhagavad Gita 2.40).

Phala temporer karma materialistik pamerih menyebabkan si pelaku merosot kedalam kehidupan yang lebih rendah. Tetapi phala permanen karma spiritual menuntun si pelaku menuju kehidupan bahagia nan kekal di alam rohani.


HUBUNGAN ANTARA HUKUM KARMA-PHALA DENGAN TAKDIR, NASIB DAN IKHTIAR

Veda menyatakan bahwa semasih sang makhluk hidup (jiva) berada didalam kandungan si ibu, takdir, nasib dan ikhtiar dalam kehidupan yang dia akan jalani kelak, telah ditetapkan sesuai dengan hutang-hutang karma nya. Dikatakan, “Ayuh karma ca vittam ca vidya nidhanam eva ca pancaitani hi srjyante garbhathasyeva dehinam, usia (umur), pekerjaan, kekayaan, pengetahuan dan kematian telah ditetapkan semasih se-seorang berada dalam kandungan” (CN.4.1).

Berdasarkan sloka Veda tersebut, maka takdir, nasib dan ikhtiar dapat diringkas sebagai berikut;
Photobucket

Hubungan antara hukum karma-phala dan punarbhava dengan takdir, nasib dan ikhtiar dapat dijelaskan secara analogis sebagai berikut;
Photobucket

Sementara anda harus melunasi hutang-hutang karma dengan kegagalan atau keberhasilan ikhtiar, pada saat yang sama anda punya kebebasan berikhtiar atau ber-karma (berbuat/bertindak) untuk mengejar kesenangan duniawi, atau meniti jalan spiritual keinsyafan diri. Anda punya kebebasan penuh untuk menentukan macam kehidupan yang anda inginkan.


NAISKARMYA, BEKERJA TANPA AKIBAT/REAKSI

Veda menyatakan bahwa untuk sampai pada tingkat spiritual brahma-bhuta atau visuddha-sattvam, berhubungan dengan Tuhan, sang jiva harus bebas dari segala hutang karma buruk ataupun karma bajik. Sebab, phala (akibat) karma buruk menyebabkan sang jiva merosot kedalam kehidupan yang lebih rendah. Dan phala (akibat) karma bajik mengantarkannya ke alam sorgawi. Dengan kata lain, hutang karma buruk maupun bajik mengikat sang jiva di alam material.

Agar bebas dari phala (akibat) karma bajik ataupun buruk atau agar bisa naiskarmya, bebas dari segala hutang karma, seseorang harus bekerja (ber-karma) semata-mata untuk menyenangkan Sri Krishna, dan ini disebut pelayanan bhakti (hrsikena hrsikesa sevanam bhaktir ucyate).

Dalam Bhagavad-Gita, Sri Krishna berulang-ulang minta (lewat Arjuna) agar saya dan anda semua ber-karma (bekerja) untuk kesenanganNya semata. Dengan kata lain, Beliau minta agar kita semua melakukan pelayanan bhakti kepadaNya. Yajnarthat karmano’nyatra loko yam karma bandhanah, laksanakan pekerjaanmu untuk kepuasan Sri Vishnu, jika tidak pekerjaan itu akan mengikat si pelaku di dunia fana (Bhagavad Gita 3.9). Mayi sarvani karmani, lakukan semua pekerjaanmu untuk-Ku (Bhagavad Gita 3.30). Yad karosi tad kurusva mad arpanam, apapun yang anda perbuat, lakukan itu semua sebagai persembahan kepada-Ku (Bhagavad Gita 9.27). Subhasubha phalair evam moksyase karma bandhanaih, dengan berbuat demikian, maka anda terbebas dari segala akibat (phala) perbuatan (karma) bajik ataupun buruk (Bhagavad Gita 9.28)

Dalam Brahman Samhita 5.54)dinyatakan, “Karmani nidahati kintu ca bhakti bhajan, dengan melaksanakan pelayanan bhakti (kepada Sri Govinda), maka segala akibat (phala) dari perbuatan (karma) yang dilakukan jadi terhapus”.

Dalam Srimad Bhagavatam, Sri Krishna berkata kepada Uddhava, “Seperti halnya api menyala membakar kayu jadi abu, tatha mad visaya bhaktir uddhaivanamsa krtsnasah, begitu pula, O Uddhava, pelayanan bhakti kepadaKu membakar segala dosa yang diperbuat oleh penyembahku menjadi abu (Bhagavata Purana 11.14.19). Maya bhaktim param kurvan karmabhir na sa badhyate, dengan menekuni jalan kerohanian bhakti kepada-Ku, seseorang tidak akan terkena akibat (phala) dari kegiatan (karma) yang dilakukannya (Bhagavata Purana 11.29.20)”.

Demikianlah, dengan bekerja (ber-karma) dalam pelayanan bhakti kepada Sri Krishna, seseorang jadi naiskarmya, bebas dari segala akibat (phala) kerja (karma) yang dilakukannya dan mencapai tingkat spiritual berhubungan dengan Tuhan.


PHALA DARI KARMA SENDIRI DAN PHALA DARI KEHENDAK TUHAN

Sri Krishna yang melihat sang bhakta begitu tulus melakukan pelayanan bhakti kepada diriNya, ingin agar dia segera kembali pulang ke rumah asal alam rohani Vikunthaloka dan terus tinggal disana dalam hubungan bhakti (cinta-kasih) timbal-balik denganNya. Maka kepada bhakta murni seperti ini Beliau menganugrahkan karunia Nya yang paling baik. Karunia apa?

Sri Krishna berkata, “Yasyaham anughrnami harisye tad dhanam sanaih, bila Saya hendak memberikan karunia ter-baik kepada seseorang, maka Saya ambil segala harta yang ada padanya, sehingga dia menjadi tidak melekat pada kesenangan material dunia fana” (Bhagavata Purana 10.8.88).

Jadi karunia terbaik Tuhan adalah kemelekatan/keterikatan kepada diri-Nya, atau cinta-kasih (bhakti) kepada-Nya. Sebab dikatakan,”Tat tu visaya tyagat sangan tyagac ca, cinta-kasih (bhakti kepada Tuhan hanya timbul di hati orang yang telah melepaskan diri dari segala kesenangan duniawi” (Narada Bhakti Sutra sloka 35).

Karena fakta inilah setelah men-capai usia lima-puluhan tahun para Brahmana dan Rajarishi dimasa lampau secara sukarela meninggalkan kesenangan hidup duniawi-berkeluarga, lalu pergi ke hutan melakukan tapa dan vrata guna mengembangkan cinta-kasih (bhakti) kepada Tuhan.


SRI KRISHNA TIDAK TERKENA HUKUM KARMA DAN PUNARBHAVA

Para pemimpin umat dan tokoh ajaran Veda yang tidak sadar dirinya dijangkiti paham materialistik dan pilsafat monistik mayavada, menyatakan bahwa Sri Krishna pun terkena hukum karma-phala dan punarbhava. Dengan berkesimpulan demikian, kata Beliau, mereka tergolong mudha, orang-orang bodoh (Bhagavad Gita 9.11).

Sri Krishna menyatakan diri-Nya sebagai berikut, “Gunasya maya mulatvan na me moksa na bandhanam, istilah terikat atau bebas (dari akibat karma) tidak terkait dengan diri-Ku, sebab Saya adalah Tuhan nan absolut pengendali maya (Bhagavata Purana 11.11.2). Na mam karmani limpanti, Saya tidak terkena akibat (phala) apapun dari kegiatan (karma) yang Ku lakukan (Bhagavad Gita 4.14). Janma karma ca me divyam, kemunculan (kelahiran) dan kegiatan Ku di dunia fana semuanya berhakekat rohani (Bhagavad Gita 4.9). Mat kathah srnvan subhadra loka pavanah, ceritra tentang kegiatan dan sifat-sifat pribadiKu mensucikan seluruh alam semesta (Bhagavata Purana 11.11.23).

Ketika berkunjung ke Dvaraka, para Deva berdoa kepada Sri Krishna, “Tvam mayaya trigunayatmani, tenaga material Anda yang mengkhayalkan (maya) yang tersusun dari Triguna, berada dalam diriMu sendiri. Nattair bhavan ajita karmabhir ajya te vai, O Sri Ajita (Krishna), Anda pribadi tidak pernah terkena reaksi (phala) kegiatan (karma) material apapun” (Bhagavata Purana 11.6.8)

Dalam Garuda Purana dinyatakan,”Apavitrah pavitro va sarvavastham gato’ pi va yah smaret pundarikaksam sa bahyabhyantara sucih, apakah seseorang sudah suci atau masih kotor dan tanpa memandang kondisi lahiriahnya, hanya dengan mengingat Sri Krishna yang bermata seindah bunga padma, seseorang menjadi tersucikan lahir-batin”.

Para Rishi berkata, “Paras paranukathanam pavanam bhagavad yasah, berkumpul bersama sambil memperbincangkan kegiatan mulia Sri Bhgavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna sungguh mensucikan hati” (Bhagavata Purana 11.3.30).

Veda menyatakan, “Yajnarthat karmanah, laksanakan pekerjaan itu untuk memuaskan Sri Vishnu (Krishna). Anyatra loko’ yam karma bandhanah, jika tidak akibat (phala) dari pekerjaan (karma) itu akan mengikat si pelaku di dunia fana” (Bhagavad Gita 3.9)

Karena fakta-fakta tersebut diatas, maka Tuhan diibaratkan seperti matahari yang tidak terpengaruh oleh keadaan di Bumi. Dan sinar nya meniadakan segala bau amis dan busuk tempat-tempat kotor. Dan Beliau diibaratkan pula seperti samudra nan luas yang tetap jernih meskipun setiap hari di-kotori oleh banyak sungai dengan jutaan ton lumpur.

Hakekat Sri Krishna yang spiritual absolut adalah bagaikan bilangan mutlak yang tidak terpengaruh oleh tanda (+) dan (-). Ini berarti bahwa meskipun ber-avatara, turun ke alam fana, Beliau tidak terpengaruh oleh dualitas material dunia fana. Sehingga kegiatan-kegiatan rohani (lila) Nya mensucikan, menyenangkan dan mem-bahagiakan seluruh dunia beserta penduduknya.

Oleh sebab itu, Sri Krishna tidak pula terkena hukum punarbhava yakni lahir ke dunia fana karena hutang karma. Melainkan, Beliau turun ke alam material semata mata karena karuniaNya yang tidak bersebab demi kesejahteraan dunia beserta segala makhluk penghuninya.

Karena itu Sri Krishna berkata,,“Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham, kapanpun dan di manapun terjadi kemerosotan dharma dan adharma merajalela, maka pada saat itu Saya turun sendiri ke dunia fana untuk paritranaya sadhunam vinasaya ca durkrtam dharma samsthamanarthaya, melindungi orang-orang saleh dan membasmi mereka yang jahat dan menegakkan dharma”(Bhagavad Gita 4.7-8)

Mengerti kegiatan-kegiatan rohani (lila) Sri Krishna yang sungguh mensucikan, mensejahterakan dan membahagiakan kehidupan segala makhluk, tidak mudah. Sebab dikatakan, “Harer martya vidambhanena drso nrnam calayatah, kegiatan rohani (lila) Sri Hari (Krishna) tidak dimengerti secara benar oleh orang-orang yangdisebut manusia fana. Lila Beliau hanya membingungkan pikiran mereka” (Bhagavata Purana 3.1.42).


POHON KEHIDUPAN MATERIAL

Badan jasmani yang di huni/dikendarai oleh sang makhluk hidup (jiva) dan terbentuk dari 24 (dua puluh empat) unsur materi alam fana beserta segala macam kegiatan (karma) dan akibat (phala) nya, diibaratkan oleh Veda sebagai pohon kehidupan material. Pohon kehidupan material ini dapat dijelaskan sebagai berikut (Bhagavata Purana 11.12.22-23).
  1. Benih/bibit nya = perbuatan (karma) bajik dan jahat.
  2. Akar-akarnya yang berjumlah ratusan = beraneka-macam ke inginan sang jiva.
  3. Tiga batangnya bagian bawah = triguna, tiga sifat alam material sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan/kebodohan).
  4. Lima batangnya bagian atas = lima unsur materi kasar (panca-maha bhuta) alam fana yaitu akasa, udara, api, air dan tanah.
  5. Lima jenis bunganya = lima obyek indriya yaitu: aroma, sentuhan, rasa, wujud/rupa dan suara.
  6. Sebelas cabangnya = lima indriya pekerja (tangan, kaki, mulut, anus dan kemaluan) dan lima indriya persepsi (telinga, mata, hidung, lidah dan kulit) dan pikiran (manah).
  7. Dua ekor burung yang hinggap padanya = sang makhluk hidup (jiva atau atma) dan Tuhan (Paramatma).
  8. Tiga macam kulit kayunya = Tridatu (udara, lendir dan empedu), dan
  9. Dua macam buahnya = kesenangan dan kesusahan.

Makna pohon kehidupan material ini adalah: jikalau sang jiva berjasmani manusia hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma, itu berarti dia menanam benih perbuatan (karma) bajik. Buah (phala) yang kelak dipetik dari pohon kehidupan yang di tanamnya adalah kesenangan/kebahagiaan. Sebaliknya, jikalau sang jiva berjasmani manusia hidup berdasarkan prinsip-prinsip adharma, itu berarti dia menanam benih perbuatan (karma) buruk. Buah (phala) yang kelak dipetik dari pohon kekehidupan yang ditanamnya adalah kesusahan/penderitaan.


TEBANGLAH POHON KEHIDUPAN MATERIAL INI

Veda minta agar saya dan anda menebang pohon kehidupan material ini. Sebab kedua macam buahnya yaitu kesenangan dan kesusahan material sama-sama mengikat sang jiva di dunia fana dalam lingkaran samsara yaitu: kelahiran (janma), usia-tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu). Karena itu, pohon kehidupan ini disebut pohon samsara.

Bagaimanakah caranya menebang pohon kehidupan atau pohon samsara ini? Veda menjawab, “Asanga sastrena drdhena chittva, tebanglah pohon kehidupan material ini dengan senjata (kampak) ketidak-melekatan pada kesenangan material dunia fana (Bhagavad Gita 15.3). Asajjitatma hari sevaya sitam jnanasinam tarati param, potonglah keterikatan pada obyek-obyek indriya (yang memberikan kesenangan duniawi semu) dengan pedang pengetahuan rohani yang telah di-asah dengan pelayanan bhakti kepada Sri Hari (Bhagavata Purana 7.5.31)”

Agama & Budaya Bali di persimpangan jalan

Showing newest posts with label tutur sastra weda. Show older posts
Showing newest posts with label tutur sastra weda. Show older posts

Metode Beragama dalam Veda



Dalam ajaran agama Hindu terdapat konsepsi ajaran yang disebut Tri Pramana.
“Tri” artinya tiga, “Pramana” artinya jalan, cara, atau ukuran. Jadi Tri Pramana adalah tiga jalan/ cara untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata maupun abstrak yang meliputi:
  1. Agama Pramana
  2. Anumana Pramana
  3. Pratyaksa Pramana
Dalam Wrhaspati Tattwa sloka 26 disebutkan:

Pratyaksanumanasca krtan tad wacanagamah pramananitriwidamproktam tat samyajnanam uttamam. Ikang sang kahanan dening pramana telu, ngaranya, pratyaksanumanagama.
Adapun orang yang dikatakan memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan yang disebut Pratyaksa, Anumana, dan Agama.

Pratyaksa ngaranya katon kagamel. Anumana ngaranya kadyangganing anon kukus ring kadohan, yata manganuhingganing apuy, yeka Anumana ngaranya.
Pratyaksa namanya (karena) terlihat (dan) terpegang. Anumana sebutannya sebagai melihat asap di tempat jauh, untuk membuktikan kepastian (adanya) api, itulah disebut Anumana.

Agama ngaranya ikang aji inupapattyan desang guru, yeka Agama ngaranya. Sang kinahanan dening pramana telu Pratyaksanumanagama, yata sinagguh Samyajnana ngaranya.
Agama disebut pengetahuan yang diberikan oleh para guru (sarjana), itulah dikatakan Agama. Orang yang memiliki tiga cara untuk mendapat pengetahuan Pratyaksa, Anumana, dan Agama, dinamakan Samyajnana (serba tahu).

Kalau direnungkan secara mendalam segala benda maupun kejadian yang menjadi pengetahuan dan pengamalan kita sebenarnya semua didapat melalui Tri Pramana.

Agama Pramana adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan- ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.

Ceritera- ceritera itu dipercayai dan diyakini karena kesucian batin dan keluhuran budi dari para Maha Resi itu. Apa yang diucapkan atau diceriterakannya menjadi pengetahuan bagi pendengarnya.
Misalnya: Guru ilmu pengetahuan alam berceritera bahwa di angkasa luar banyak planet- planet, sebagaimana juga bumi berbentuk bulat dan berputar. Setiap murid percaya kepada apa yang diceriterakan gurunya, oleh karena itu tentang planet dan bumi bulat serta berputar menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya, walaupun murid- murid tidak pernah membuktikannya.

Demikianlah umat Hindu meyakini Sang Hyang Widhi Wasa berdasarkan kepercayaan kepada ajaran Weda, melalui penjelasan- penjelasan dari para Maha Resi atau guru- guru agama, karena sebagai kitab suci agama Hindu memang mengajarkan tentang Tuhan itu demikian.

Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi.

Cara menarik kesimpulan adalah dengan dalil sebagai berikut:
YATRA YATRA DHUMAH, TATRA TATRA WAHNIH
Di mana ada asap di sana pasti ada api.

Contoh:
Seorang dokter dalam merawat pasiennya selalu mulai dengan menanyakan keluhan- keluhan yang dirasakan si pasien sebagai gejala- gejala dari penyakit yang diidapnya. Dengan menganalisa keluhan- keluhan tadi dokter dapat menyimpulkan penyakit pasiennya, sehingga mudah melakukan pengobatan.

Demikian pula jika memperhatikan keadaan dunia ini, maka banyak sekali ada gejala- gejala alam yang teratur. Hal itu menurut logika kita hanya mungkin dapat terjadi apabila ada yang mengaturnya.

Contoh:
Apabila kita memperhatikan sistem tata surya yang harmonis, di mana bumi yang berputar pada sumbunya mengedari matahari, begitu pula bulan beredar mengelilingi matahari pada garis edarnya, tidak pernah bertabrakan, begitu teratur abadi. Kita lalu menjadi kagum dan berpikir bahwa keteraturan itu tentu ada yang mengatur, the force of nature yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.

Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini.

Misalnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri, kita jadi tahu dan yakin terhadap suatu benda atau kejadian yang kita amati. Untuk dapat mengetahui serta merasakan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dengan pengamatan langsung haruslah didasarkan atas kesucian batin yang tinggi dan kepekaan intuisi yang mekar dengan pelaksanaan yoga samadhi yang sempurna.

Pertama;
1. Saksi (ada Saksi yang melihat)
2. Bukti, (ada atau tidak bukti kejadian)
3. Ilikita, (Tertulis atau tidak)

Kedua:
1. Sastratah (mempertimbangkan berdasarkan sumber tertulis/sastra)
2. Gurutah (mempertimbangkan menurut Ajaran Gurui)
3. Swatah (mempertimbangkan pengalaman sendiri)

Ketiga:
1. Agama (mempertimbangkan menurut ajaran agama)
2. Anumana (mempertimbangkan menurut pikiran sehat)
3. Pratyaksa (mempertimbangkan apa yang dilihat secara langsung)

Keempat:
1. Wartamana, (Mempertimbangkan sesuai pengalaman dahulu)
2. Atita (mempertimbangkan keadaan sekarang)
3. Nagata (mempertimbangkan keadaan yang akan datang)

Kelima:
1. Rasa (mempertimbangkan dengan perasaan)
2. Utsaha (mempertimbangkan atas prilakunya.
3. Lokika (mempertimbangkan dengan pikiran logis)

Keenam:
1. Sabda (mempertimbangkan dengan memberi saran)
2. Bayu (mempertimbangkan dengan keyakinan yang kuat)
3. Idep (mempertimbangkan dengan pikiran sehat)

Orang sering berbicara tentang logika yang artinya masuk akal.
Tidak sedikit orang mengatakan agama Hindu itu tidak masuk akal, ajaran Hindu tidak logis.

Padahal………………………

Kata logika – logic sendiri berasal dari kata Sanskrit yaitu lokika yang artinya mempertimbangkan secara logis.

Hindu yang mengajarkan manusia berpikir secara logika kok ajaran Hindu dibilang tidak logis?

sumber vedasastra.wordpress. com
diposkan kembali di http://cakepane.blogspot.com

Ilmu Pengobatan-Ayurvedic


Kebudayaan Hindu kuno juga memiliki sebuah sistem yang sudah maju tentang obat-obatan.
  • Beberapa referensi paling awal mengenai bangsa India dan obat-obatan herbal untuk menangani penyakit ditemukan di dalam Rig-veda (Buku Sepuluh, Bab 97, dan 145).
  • Penyakit demam juga disebutkan di dalam Atharva-veda (5.22.12-14 & 7.116.1-2),
  • uraian tentang berbagai jenis demam daftarnya disebutkan dalam Vajasaneyi-Samhita [White Yajur-veda](12.97).
  • Taittiriya Samhita (2.3.5) menyebutkan pentingnya perhatian terhadap makanan dan pernafasan.
  • Pengetahuan tentang nadi dan arteri disebutkan di dalam Atharva-veda (1.17.1-4),
  • pembedahan didiskusikan di dalam Rig-veda (1.116.15) yang mana Asvin memasang sebuah kaki palsu terbuat dari besi kepada Vispala, seorang yang buntung kehilangan kakinya dalam peperangan, dan membantu orang pincang untuk bisa berjalan dan orang buta bisa melihat (1.112.8), dan menangani patah tulang (10.39.2). Perkembangan Ayurveda membawa ilmu pengobatan pertama ke tatanan yang lebih baru.

Dalam ilmu pengobatan terdapat ilmu Embriology.
Tulisan pertama yang membahas embriology ditemukan di dalam Rig-veda dan Atharva-veda. Walaupun bukan pembahasan yang berkembang, 

dalam Bab 31 dari Kanda Ketiga Bhagavatam Purana kita benar-benar menemukan penjelasan menyeluruh tentang bagaimana entitas kehidupan memasuki kandungan pada saat terjadi pembuahan, dan bagaimana sperma bercampur dengan sel telur lalu terbentuk embriyo, dan pertumbuhannya di dalam kandungan sampai saat kelahirannya. Bahkan membahas pikiran dan perasaan si jabang bayi semasih di dalam kandungan, dan bahkan bagaimana ia terpengaruh oleh perubahan emosi sang ibu dan jenis-jenis makanan yang dikonsumsi sang ibu, dan bagaimana ia merasa kesakitan saat ibunya makan makanan pedas.

Naskah-naskah lainnya, seperti Garuda Purana dan Manu-Samhita, membahas tentang cara meyakinkan apakah si jabang bayi laki-laki atau perempuan. Dengan bantuan buku-buku tersebut dan informasi tambahan dari naskah-naskah lain, seperti Aitareya Aranyaka dan Chandogya Upanishad, kita menemukan sebuah sistem yang benar-benar lengkap yang menguraikan terbentuknya semen dengan segala aspeknya sampain kelahiran sang bayi. Ini menunjukan bahwa para ilmuwan Veda di jaman dahulu mempunyai pemahaman tentang embriology bahkan ketika orang-orang dari bangsa-bangsa lain tidak mengetahuinya.

Dorothea Chaplin menyebutkan di dalam bukunya, Matter, Myth and Spirit, or Keltic and Hindu Links, (hal. 168-9), “Jauh sebelum tahun 460 B.C., saat Hippocrates, bapaknya obat-obatan bangsa Eropa dilahirkan, orang Hindu telah membangun sebuah pharmacopoeia besar dan telah melakukan penanganan terhadap berbagai jenis pengobatan dan pembedahan . . . Keajaiban pengetahuan orang-orang Hindu di bidang pengobatan dalam banyak hal sejauh mungkin menghindarkan si pasien dari tindakan pembedahan yang mengakibatkan kerusakan pada sistem pembuluh darah, yang mana sistem ilmu pengobatan mereka bisa mengatasinya, menghasilkan sebuah tindakan bahkan tanpa melalui krisis pendahuluan”.

Pentingnya kajian ini adalah bahwa Ayurveda sebagai sebuah sistem pengobatan Vedic adalah sebuah sistem ilahi dimana penanganannya didasarkan kepada hukum alam. Sistem ini juga tidak mahal, meminimalkan tindakan, sangat manjur, dan rasa sakit yang minimal. Sistem ini juga mengarah pada penanganan penyakit selain hanya menangani simpul saraf atau mengurangi rasa sakit. Tetapi, dalam kasus-kasus tertentu ketika perlu dilakukan pembedahan, ahli-ahli bedah India jaman dahulu sangatlah mahir.

Bahkan sejak jaman Rig-veda (1.116.15) nampaknya bahwa mereka mengetahui seni pembedahan untuk menangani luka-luka korban peperangan dan bahkan dapat membuat organ tubuh palsu dari bahan logam untuk dipasang di tubuh pasien. Seperti dijelaskan oleh A.L. Basham dalam bukunya, The Wonder That Was India (hal. 502), “Ilmu bedah bangsa India masih di depan bangsa Eropa sampai abad ke-18, ketika para ahli bedah East India Company (British) tidak malu-malu mempelajari ilmu bedah plastik (rhinoplasty) dari orang-orang India”.

Pada halaman 30-31 dari buku Bharat (India) As Seen and Known by Foreigners karya G.K. Deshpende (1950), Dr. Sir William Hunter mengamati, “Perawatan dokter-dokter bangsa India tempo dulu adalah sangat mahir dan ahli. Mereka melakukan tindakan amputasi, menghentikan pendarahan dengan tekanan, perban pembalut dan minyak mendidih, mempraktekan lithotomy, melakukan operasi pada organ bagian dalam dan uterus, menangani hernia, fistula files, memperbaiki tulang patah dan salah posisi dan cekatan dalam memisahkan unsur-unsur asing dari tubuh.

Sebuah cabang khusus ilmu bedah adalah ilmu bedah plastik (rhinoplasty), sebuah operasi untuk memperbaiki telinga dan hidung yang bentuknya tidak bagus dan membuat hidung baru, suatu tindakan operasi yang sangat bermanfaat yang mana sekarang ini dipinjam oleh bangsa Eropa. Ilmu bedah bangsa India kuno juga memberikan petunjuk tentang tindakan penanganan neuralgia, sama dengan cara-cara jaman modern dalam memotong saraf ke-lima di atas alis mata. Mereka ahli dalam kebidanan, tidak takut melakukan operasi yang paling kritis”.

Mr. P.N. Oak menjelaskan dalam bukunya World Vedic Heritage (hal. 360), “Operasi kantung prostat yang dilakukan di jaman modern, para ahli bedah Barat secara persis mengikuti tahapan-tahapan prosedur operasi yang dilakukan oleh Sushrut, ahli bedah Hindu, ribuan tahun yang lalu. Bahkan istilah kantung prostat adalah istilah Sanskrit Prasthita granthi, menunjuk kepada sebuah kantung (gland) yang terletak di depan kantung kemih”.

Ilmu bedah plastik juga dilakukan di India pada ratusan tahun yang lalu. Ini dijelaskan dalam sepucuk surat kepada editor majalah Gentlemen’s Magazine (tersedia di perpustakaan “Wellcome Institute for History of Medicine”, 183 Euston Road, London). Isi surat itu menjelaskan bahwa pernah ada seorang pengemudi bernama Cowasjee, yang membantu melayani tentara Kerajaan Inggris di India di tahun 1792. Sebelumnya, ia pernah dipenjara oleh tentara Tipu Sultan, dimana mereka mencopot hidungnya karena prilaku barbar penguasa Muslim dalam menyiksa dan melumpuhkan tawanan. Sekembalinya di rumahnya di Pune setahun kemudian, seorang ahli bedah Ayurvedic Hindu menanganinya dengan memasangkan sebuah hidung baru. Thomas Cruso dan James Trindlay, merupakan dua orang dokter Inggris yang menjadi saksi mata operasi bedah yang mencengangkan tersebut. Mereka menjadi saksi hidup atas operasi-operasi ajaib yang sangat umum dilakukan di India bahkan selama mereka di sana.
Pada halaman 360-70 dari buku World Vedic Heritage, Mr. Oak menyajikan sebuah daftar perbandingan kata-kata antara bahasa Inggris dan Sanskrit.

Ini memperlihatkan seberapa banyak kebudayaan barat berasal dari pengetahuan Vedic/Sanskrit di bidang pengobatan begitu juga berapa banyak kata-kata Sanskrit telah diambil ke dalam bahasa Inggris.

English ================> Sanskrit
fever =================> jwar, kemudian menjadi jever, kemudian fever
entrails ================> antral
nasal or nose ============> naas
herpes ================> serpes
gland ==================> granthi
drip, drop, drops ==========> drups
hydrocephalus ============> andra-kapaalas (otak/kepala ber-uap air)
hiccups ================> hicca
muscle =================> mausal (gemuk)
malign, malignant =========> mallen
osteomalacia ============> asthi-malashay (kontaminasi tulang)
dyspepsia ==============> dush-pachanashay (pencernaan tidak baik)
surgeon ================> salya-jan (pemakaian peralatan tajam)
fertility ================> falati-lti (menghasilkan buah)
anesthesia ==============> anasthashayee (terbaring tidak sadarkan diri)
homeopathy =============> Samaeo-pathy (treatment parallel terhadap symptom)
allopathy ===============> alag-pathy (treatment yang berbeda dengan symptom)

Dalam buku World Vedic Heritage karya Mr. P.N. Oak menjelaskan : “Apabila kita menyimak lebih dekat tentang terminologi-terminologi allopathi, apakah itu jenis-jenis penyakit, organ-organ fisik, symptom, rehabilitasi, atau peralatannya ternyata bahwa semua itu didasarkan kepada Ayurveda karena semasa dunia masih bersatu di bawah naungan administrasi Veda hanya ada Ayurveda yang merupakan satu-satunya sistem pengobatan yang dipakai di seluruh dunia.

Dengan mandeknya sistem pengobatan dunia setelah Perang Mahabharata, penggalan-penggalan dari sistem pengobatan Ayurveda bisa bertahan di tempat-tempat tertentu di dunia yang dianggap sebagai bentuk cara-cara pengobatan tradisional atau sebagai sistem-sistem tandingan seperti homeopathy dan allopathy.

Hal yang sama terjadi pada theologi dan agama dimana setelah tercerai-berainya theologi peradaban Veda, muncul aliran-aliran yang mengkultuskan dewa dan dewi tertentu, seperti misalnya Mithraisme, Jainisme, Judaisme, Buddhisme, dan Shivaisme, yang pertama muncul secara damai dan masih sejalan atau mirip dengan peradaban Veda.

sumber vedasastra.wordpress. com
diposkan kembali di http://cakepane.blogspot.com

Satuan Ukuran dalam pustaka Veda (Material Science)


Sebagaimana kita ketahui. Veda berasal dari kata “Vid” yang berarti “mengetahui” dan “Veda” sendiri berarti “ilmu pengetahuan”. Dalam pengertian semantik, Veda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, kebijakan tertinggi atau pengetahuan spritual sejati tentang kebenaran abadi.

Veda terdiri dari 2 jenis pengetahuan, yaitu
pengetahuan rohani (Spiritual Science) tentang Tuhan, Atman dan hubungannya yang disebut “Para Vidya” dan pengetahuan tentang dunia material (Material Science) dan aturan-aturan kehidupan yang disebut “Apara Vidya”.

Veda sebagai Apara Vidya yang mengajarkan prihal dunia material, sudah barang tentu Veda bersentuhan langsung dengan dunia-dunia yang berbau ilmiah. Beberapa bagian ajaran Apara Vidya dalam Veda yang memiliki korelasi kuat dengan dunia sains yang ilmiah antara lain;
  1. Ilmu Astronomi (Jyotisa) 
  2. Ilmu Kedokteran (Ayurveda) 
  3. Ilmu Militer dan pemerintahan (Dhanurveda) 
  4. Ilmu Arsitektur (Ghandarva Veda) 
  5. Ilmu perbintangan (Siddha Vaidya) 
  6. Ilmu Politik dan Ekonomi (Artha Sastra) 
  7. Logika dan Analisa (Nyaya)

Sebagaimana layaknya sains, semua pustaka Apara Vidya diatas didasari atas ilmu hitung (Vedic Mathematic) serta satuan ukuran/besaran. Semua pustaka suci Veda menggunakan bahasa yang Ilmiah.

Kenapa disebut bahasa yang ilmiah?

Karena Veda menggunakan bahasa Sansekerta. Menurut penelitian NASA (Badan Antariksa Amerika) dalam majalah AI (Artificial Intelligence) yang diterbitkan pada musim semi 1985 yang merupakan hasil penelitian Rick Briggs, Bahasa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang bisa diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa pemrograman komputer.

Ilmuwan NASA telah membuktikan bahwa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang dapat mengekspresikan setiap kondisi yang ada di alam semesta dengan jelas. Dengan struktur bahasa yang sempurna, Bahasa Sansekerta dapat dan telah digunakan sebagai Bahasa Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence.

Rigg Briggs, seorang peneliti NASA, menjelaskan bahwa struktur Panini (Panini Grammer) bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis tanpa perlu menggunakan karakter alfanumerik sebagaimana yang dipakai dalam semua bahasa tingkat tinggi komputer sekarang ini.

Bahasa tingkat tinggi artinya, bahasa yang menyerupai bahasa manusia dan merupakan jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer). Bahasa tingkat tinggi ini berkebalikan dengan bahasa mesin (bahasa tingkat rendah) pada komputer yang terdiri atas kombinasi biner: 0 dan 1 (open and close positions).

Sementara bahasa-bahasa lain membutuhkan parser (untuk memisahkan sintaksis) agar dapat dimengerti komputer dan membutuhkan karakter alfanumerik (angka dan tanda baca), Bahasa Sansekerta mampu melakukannya dengan jelas tanpa keduanya. Tidak heran selama jutaan tahun Bahasa Sansekerta dipakai sebagai bahasa tulisan dalam berbagai bidang profesi, seperti matematika, hukum, filsafat, linguistik, astronomi, kedokteran, sastra dan lain sebagainya. Mungkin hal ini jugalah yang menyebabkan Veda sebagai kitab suci tertua tetap bertahan sampai saat ini karena memang tidak terjadi perubahan makna akibat ambiguitas tafsir dalam pemahamannya.
Penyebutan istilah Matematika Veda (Vedic Mathematic) untuk metode yang digunakan dalam penyelesaian masalah aritmatika pertama kali dicetuskan oleh Bharati Krsna Tirthaji pada tahun 1911- 1918 berdasarkan metode-metode yang disebutkan pada banyak sloka-sloka yang tersebar dalam berbagai pustaka Veda. Hingga saat ini, kehebatan metode Matematika Veda untuk menyelesaikan masalah aritmatika sudah diakui di seluruh dunia sebagai metode yang paling efisien.

Sebagaimana halnya sains modern, Veda juga memiliki sistem besaran dan satuan ukuran yang sudah barang tentu dengan istilah dan standar yang berbeda.
Misalnya satuan panjang dalam “Yojana”, satuan waktu dalam “Truti”, satuan massa (berat) dalam “Maasha” dan satuan suhu/temperatur dalam “Linka”.

Dalam Veda sudah dikenal besaran jarak yang dikenal dengan istilah Yojana dan turunannya. Istilah ini dapat ditemukan antara lain dalam Bhagavata Purana 10.57.18.
Satuan Jarak dalam Veda antara lain :
  • 8 Paramanu = 1 Trasarenu
  • 8 Trasarenu = 1 Renu
  • 8 Renu = 1 Balagna
  • 8 Balagna = 1 Likhya
  • 8 Likhya = 1 Yuka
  • 8 Yuka = 1 Yava
  • 8 Yava = 1 Angula
  • 24 Angula = 1 Hasta
  • 4 Hasta = 1 Danda
  • 2000 Danda = 1 Krosha
  • 4 Krosha = 1 Yojana
  • 1 Danda = 1 Meter
  • 1 Angula = 1,0416 cm

Dan ternyata pernyataan Veda mengenai Keliling bumi dalam Surya Sidhanta sangat sesuai dengan pengetahuan modern saat ini, yaitu 4.02×10^7 Danda = 4.02×10^7 Meter

Satuan Massa dalam Veda antara lain sebagai berikut;
  • 10 Krishnala = 1 Maasha
  • 16 Maasha = 1 Suvarna Pala (Pala Emas)
  • 32 Maasha = 1 Raupya Pala (Pala Silver)
  • 48 Maasha = 1 Lauha Pala (Pala Besi)

Untuk Temperatur (Linka), Veda mengenal satuan-satuan berikut;
  • 1 Pralinka = 1 Padakakshya = 0.885o C
  • 4 Pada Kakshya = 1 Kakshya = 3,54 o C
  • 6 Kakshya = 1 Linka = 21,24 o C
  • 113 Pada Kakshya pada titik air = 100 o C
  • 101 Kakshya = titik didih merkuri (air raksa) = 357 o C
  • 50 Linka = titik didih emas = 1.062 o C

Satuan Waktu dalam Veda antara lain;
(a) Untuk ukuran waktu yang kecil;
  • TRUTI = 1/33.750 detik adalah unit terkecil dari waktu dalam Veda
  • 100 Truti = 1 Tatpara
  • 45 Tatpara = 1 Nimesha
  • 30 Nimesha = 1 Prana = 4 detik
  • 3 Nimesh = 1 Vipala = 0,4 detik
  • 60 Vipalas = 1 Pala = 24 detik
  • 60 Palas = 1 Ghatika = 24 Menit
  • 60 Ghatikas = 1 divas = 1 hari atau 24 Jam
  • 7 divas = 1 Saptah = 1 minggu
  • 15 divas = 1 Paksha = 1 Fortnight
  • 2 Paksha = 1 Maas = 1 Bulan
  • 2 Maas = 1 Ritu = 1 Season
  • 6 Ritu = 12 Maas = 1 Varsha = 1 Tahun
  • 100 Years = 1 Shatabda
  • 10 Shatabda = 1 Sahasrabda = 1 Milenium = 1.000 tahun

(b) Untuk ukuran waktu yang besar;
  • 432 Sahasrabda = 1 Kali Yuga atau Yuga = 432.000 tahun
  • 2 Yug = 1 Dwapar Yuga = 864.000 tahun
  • 3 Yug = 1 Treta Yuga = 1296.000 tahun
  • 4 Yug = 1 Satya Yuga = 1728.000 tahun
  • 10 Yug = 1 Maha Yuga = 4,32 Juta Tahun
  • 1000 Maha Yuga = 1 Kalpa = 4,32 Miliar Tahun = Siang hari Brahma
  • 2 Kalpa = 1 hari Brahma = 2.000 Maha Yuga = 8,64 Miliar Tahun
  • 360 hari Brahma = 1 Tahun Brahma = 3.110,4 Miliar Tahun = 3,1104 Triliun Tahun
  • 1 Maha Kalpa atau Brahma Ayu = 100 tahun Brahma = 311,04 Triliun Tahun = 3.1104 X 1014 Tahun matahari = 311.040.000.000.000 tahun matahari.

Satuan turunan dari waktu yang lain antara lain;
  • 2 Ghatkas = 1 Muhurta = 48 Menit
  • 60 Ghatikas = 30 Muhurtas = 1 Hari
  • 2,5 Ghatikas = 1 Hora = 1 Jam
  • 2 Paksas = 1 Maas = 1 Bulan

# Shukla Paksha (waktu setelah bulan purnama s/d bulan mati)
# Krishna Paksha (waktu setelah bulan mati s/d bulan purnama)

Disamping satuan-satuan dasar ini, dalam perhitungan Apara Vidya dalam Veda, masih dikenal satuan-satuan turunan yang setara dengan satuan-satuan yang kita kenal di dunia modern saat ini.

Jadi tidaklah mengherankan jika penemuan-penemuan arkeologi saat ini sebagaimana diuraikan oleh Michael Cremo dalam buku “Forbiden Archeology” mengarah pada kenyataan dimana teknologi manusia pada jaman dahulu sudah sangat canggih dan tidak kalah canggihnya dengan teknologi kita saat ini.

Apakah anda dapat menemukan satuan dan besaran selengkap ini dalam kitab suci selain Veda?

Banggalah sebagai orang Hindu!

Sumber:
1. http: //hindugenius. Blo gspot. com
2. http: //gosai. com/science/sanskrit-nasa. html
3. http: //ngarayana. web.ugm.a c.i d/2009/…an-dalam-veda

Beberapa Sloka Ilmiah - Saint Vedic

Beberapa Sloka Ilmiah - Saint Vedic

Atharva Veda bab III.13.5 yang menyebutkan Agnisomau bibhratiapa it tah artinya air terdiri atas Oksigen dan Hidrogen.

Ingatlah, Hindu itu ada sejak kapan?
Veda yang lebih dulu tahu unsur pembentuk air dibanding ilmuwan modern.

Sama Veda juga menyebutkan Tam it samanam vaninas ca virudhoantarvatis ca suvate ca vivaha Tumbuh-tumbuhan menghasilkan udara vital yang disebut samana (Oksigen) secara teratur.

Veda’kan yang lebih cerdas dari ilmuwan modern?

Rgveda bab II.72.4 disebutkan Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi).

Dulu Albert Enstein susah payah sampai tua akhirnya ia bisa menemukan rumus molekul E=mC2. Coba dari dulu ia membaca Veda, tidak perlu repot-repot mencari rahasia atom.

Padma Purana:
jala-jā nava-lakñāni sthāvara lakña-vimsati
krmaya rudra-sankhyakah paksinam dasa-laksani
pasavas trimsa-laksani manusya catur-laksani
“Terdapat 900.000 jenis kehidupan dalam air (aquatic species); 2.000.000 jenis kehidupan alam bentuk tumbuhan dan pepohonan; 1.100.000 jenis kehidupan serangga; 1.000.000 jenis kehidupan bentuk burung; 3.000.000 jenis kehidupan binatang buas, dan 400.000 jenis kehidupan dalam badan manusia”.

Apa para ilmuwan atau Anda tahu akan hal ini?

Atharva Veda bab VII.107.1 menyebutkan Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah artinya matahari memiliki tujuh jenis sinar, mereka adalah sumber hujan.

Dulu siapa yang repot-repot mencari pembiasan tujuh warna matahari di air?

Yayur Veda bab XVIII.40 mengatakan Susumnah suryarasmiscandrama susumnah artinya sinar matahari yang disebut susumna menerangi bulan. Dahulu kala para ilmuwan sibuk berdebat dan mencari tahu apakah bulan punya cahaya sendiri atau tidak.

Coba baca Veda dari dulu’kan tidak perlu repot-repot bikin satelit.

Agnim samudra vasasam (rg VIII.102.4)
Api ada didalam lautan dalam bentuk tenaga (energy) dasar laut

Agnir vrtrani janghanat (rg VI.16.34)
Api menghancurkan pencemaran

Athabhavad arati rodasyaoh (rg I.59.2)
Api adlah inti (nucleus) alam semesta

Murdha divo nabhir agnih prthiv yah (rg I.59.2)
Api adalah dasarnya langit dan intinya bumi

A yasmin sapta rasma yas talah (rg II.5.2)
Api mengandung tujuh sinar

Harayah suparna apo vasana
Vivam ut patanti
(ath XIII.3.9)
Matahari mengambil air dalam bentuk uap ke langit

Ava divas tarayanti
Sapta suryasya rasmayah
Apah samudra dharah
(ath VIII.107.1)
Matahari yang tujuh itu mengambil/membawa air laut ke langit dan kemudian menyebabkan hujan

Susumnah suryarasmis candrama andharvah (yayur XVIII.40)
Sinar matahari yang disebut susumna mnerangi bulan

Sumavavari prthivi sam usah sam u suryah (yayur XX.23)
Matahari bumi dan fajar (permulaan) berputar (berotasi)

Apam rasa mud vayasam
Surye santam samahitam
Apam rasasya yo rasah
(yayur IX.3)
Intisari air yg paling halus (zat air = hydrogen, helium) terdapat di dalam matahari)

Sam vato vatu te hrde (rg VIII.2.14)
Udara yg segar bermanfaat untuk jantunggmu

Yad ado vat ate grhe
Amrtam nihitam guha
(sama 1842)
Ya udara engkau berisi nectar (oksigen) ditempat kediamanmu

Mathid yad im vsto matarisva
Vivas advyam
(rg I.148.1)
Udara menghasilkan api melalui pergesekan

Apsu asit matarisva pravistah (atha X.8.40)
Udara ada didalam air

sumber vedasastra.wordpress. com

Penciptaan Alam Semesta Menurut Veda


Penciptaan Alam Semesta Menurut Veda

Dalam Manawa Dharmasastra 1.5; dijelaskan bahwa Alam semerta ini pada mulanya adalah bentuk kegelapan, tak dapat dilihat tanpa ciri2 sama sekali, tak terjangkau leh daya pikiran, tak dapat dikenal, se-olah2 sebagai orang yang tenggelam dalam tidur yang paling menyenyakan.

Chandogya Upanisad 3.14.1 menyatakan bahwa semuanya adalah Brahman.
Tidak ada neraka abadi karena bahkan neraka pun tidak bisa dipisahkan dengan Tuhan. Bahkan, tidak ada surga atau neraka pada akhir zaman. Semesta hanyalah manifestasi dari Yang Kuasa, dan akhir dari siklus semesta yang sekarang disebut “Mahapralaya” saat semua kembali pada Purusa. Di akhir zaman, tidak ada surga, tidak ada neraka dan tidak ada jiwa.

Matsya Purana 2.25-30, penciptaan diceritakan terjadi setelah Mahapralaya, leburnya alam semesta, kegelapan di mana-mana. Semuanya dalam keadaan tidur. Tidak ada materi apapun, baik yang bergerak maupun tak bergerak. Lalu Svayambhu, self being, menjelma, yang merupakan bentuk di luar indra. Ia menciptakan air/cairan pertama kali, dan menciptakan bibit penciptaan di dalamnya. Bibit itu tumbuh menjadi telur emas. Lalu Svayambhu memasuki telur itu, dan disebut Visnu karena memasukinya.

Manawa Dharmasastra 1.8-11; Ia (Tuhan) yang ingin menciptakan dirinya sendiri semua makhluk2 hidup yang beranekaragam, mula2 dengan pikiranNYa terciptalah benih dan benih itupun menjadi telor alam yang maha suci dan maha terang, dalam telor itulah Ia menciptakan dirinya sebagai Brahman, pencipta dan cikal bakal dari alam semesta. dari cikal bakal (sebab) yang pertama ini, yang tak berbedakan, kekal yang nyata dan tak nyata, munculah purusa.

Rg. Veda menjelaskan bahwa sebelum penciptaan Alam semesta dalam bentuk tak berwujud yang disebut rahim emas, rahim dari semesta atau Hiranyagharba.
“Sebelum penciptaan adalah rahim emas, ia adalah tuan dari segala yang lahir. Ia memegang bumi.” Rg. Veda 10.121.1

Sebelum penciptaan yang ada hanya kosong. Belum ada ruang maupun waktu. Tak ada materi.
“Pada mulanya sama sekali tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer.” - Taittiriya Brahmana 2.2.9.1
“Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan planet-planet ada di dalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh kualitas dari luar.” - Vayu Purana 4.72-73
“Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.” - Vayu Purana 24.73
“Dari telur emas, alam material diciptakan.” - Manusmrti 1.13

istilah telur emas atau telur alam sekedar merupakan bahasa yang melukiskan sifat2 yang mengandung ide kesucian / keistimewaan. Saat Penciptaan Semesta, Purusa/Prajapati/Brahman menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin / nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “citta” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran / Dharma), Rajah (sifat kenafsuan / dinamis) dan Tamah (Adharma / kebodohan / apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok;
  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria (pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan). 
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria (mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin).
Setelah itu timbullah lima jenis benih benda alam ( Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra (suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra (penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman). Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat).
Pancamahabhuta berbentuk Paramānu atau benih yang lebih halus daripada atom. Pada saat penciptaan, Pancamahabhuta bergerak dan mulai menyusun alam semesta dan mengisi kehampaan. Setiap planet dan benda langit tersusun dari kelima unsur tersebut, namun kadangkala ada salah satu unsur yang mendominasi.

“dan juga diciptakan tingkatan daripada Dewa2 yang memiliki hidup dan sifat bergerak, juga diciptakan Sandhya serta Yadnya yang kekal. diciptakan juga olehNYA waktu, bagian dari waktu, gugusan2, bulan2 dan planet2” -  Manawa Dharmasastra 1.22-24
“dengan memakai lima macam unsur alam yang halus (panca tanmatra) sebagai sarana seluruh alam ini dibentuk olehNya dengan susunan yang teratur secara sempurna, Ia menentukan tujuan dari ciptaannya untuk selanjutnya arah itu merupakan jalan yang tetap dari ciptaanya yang mengikutinya” - Manawa Dharmasastra 1.27-28

Unsur-unsur tersebut dicampur dengan Citta, Buddhi, Ahamkara, Dasendria, Pancatanmatra dan Pancamahabhuta. Dari pencampuran tersebut, timbulah benih makhluk hidup, yaitu Swanita dan Sukla. Pertemuan kedua benih tersebut menyebabkan terjadinya makhluk hidup.

Teori penciptaan Veda lebih jauh dijelaskan dalam Bhagavata Purana/ Srimad Bhagavatam;
Srimad Bhagavatam (3.11.41) menjelaskan: “Lapisan-lapisan unsur yang menutupi alam semesta, masing-masing sepuluh kali lebih tebal dari lapisan sebelumnya, dan kumpulan seluruh alam semesta bersama-sama kelihatan bagai atom-atom dalam kombinasi yang besar.”
Srimad Bhagavatam (5.20.43-46) : “Matahari berada di pertengahan alam semesta, yaitu di wilayah ruang (antariksha) antara Bhurloka dan Bhuvarloka”

Sementara itu pada Srimad Bhagavatam skanda 5 bab 24 mengatakan munculnya alam semesta dari pori-pori Tuhan dalam wujud Karanodakasayi Visnu, dari sini muncul Garbhodakasayi Visnu yang berikutnya dari pusar Beliau muncul bentuk yang menyerupai bunga padma. Di atas bunga padma inilah Tuhan menciptakan mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma diberi wewenang sebagai arsitek yang menciptakan susunan galaksi beserta isinya dalam satu alam semesta yang dikuasainya. Alam semesta berjumlah jutaan dan tidak terhitung banyaknya yang muncul dari pori-pori Karanodakasayi Visnu dan setiap alam semesta memiliki dewa Brahma yang berbeda-beda.

Ada Dewa Brahma yang berkepala 4 seperti yang dijelaskan menguasai alam semesta tempat bumi ini berada. Dan ada juga Brahma yang lain yang memiliki atribut yang berbeda, berkepala 8, 16, 32 dan sebagainya. Yang jelas dapat disimpulkan bahwa Brahma adalah merupakan kedudukan dalam sebuah alam semesta dan di seluruh jagat material terdapat sangat banyak dewa Brahma, bukan saja dewa Brahma bermuka empat yang telah biasa dibicarakan oleh umat Hindu saat ini.

Hal pertama yang diciptakan Brahma adalah susunan benda antariksa, planet, bintang dan sejenisnya mulai dari tingkatan paling halus sampai dengan yang paling kasar. Dalam penciptaan ini dijelaskan bahwa Tuhan menjelma sebagai Ksirodakasayi Visnu dan masuk kedalam setiap atom. Inilah kemahahebatan Tuhan sebagai maha ada dan menguasai setiap unsur dalam ciptaannya. Setelah itu Dewa Brahma menciptakan berbagai jenis kehidupan mulai dari para dewa, alien, mahluk halus, binatang, tumbuhan sampai pada bakteri yang keseluruhannya berjumlah 8.400.000 jenis kehidupan.

Ketika alam semesta berekspansi, Ia juga diberi nama Virata yang diturunkan dari akar kata ‘Vr’ yang artinya untuk menutupi yang juga berarti ‘sangat besar’.
“Vrtra menutupi kesemua tri loka.” - Taittiriya Samhita 2.4.12.2
“Vrtra berada jauh di atas di Antariksa.” Rg.Veda 2.30.3
Tri loka melukiskan alam semesta, jadi disini Vrtra menutupi alam semesta. Jika Vrtra ada di batas alam semesta, ia bisa dikatakan berada ditempat yang jauh sekali.

Dalam Rg.Veda 1.32 dilukiskan bahwa Vrtra (sang ular) menahan air, dimatra 12 dijelaskan bahwa kekalahan Vrtra dari Indra membebaskan tujuh sungai untuk mengalir. Pembebasan tujuh sungai (sapta sindhu) oleh Indra bukanlah disebutkan hanya satu kali, tapi berulang-ulang kali dalam Rg.Veda. Ide dimana ular menahan air juga ditemukan dalam manuskrip yang berbeda-beda diseluruh dunia.

Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada mulanya adalah air dan ular berbulu.

Dalam Rg.Veda 4.17.13 Indra disebut sebagai Asanimana yang artinya Ia yang menguasai petir. Lebih lanjut dalam Kausitaki Brahmana 6.9, Indra disebut sebagai Asani (petir). Satapatha Brahmana mengatakan: “Siapakah Indra dan siapakah Prajapati? Petir adalah Indra dan Yajna adalah Prajapati.” - Satapatha Brahmana 11.6.3.9

Lebih lanjut dalam Rg.Veda bab II.72.4 disebutkan
“Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi).
Mengakomodir pemaparan ayat-ayat Veda tentang penciptaan alam semesta, Veda mengajukan teori baru yang berbeda dengan teori penciptaan yang umum dikenal sekarang.

Secara garis besar Veda mengatakan bahwa alam semesta muncul dari pori-pori Tuhan yang merupakan energi maha besar dan berikutnya berkembang dan terus meluas membentuk materi yang memenuhi semesta raya.

Lebih lanjut, Srimad Bhagavatam dalam skanda yang sama menjelaskan pada akhir peleburan suatu alam semesta, alam semesta akan kembali masuk ke dalam pori-pori Tuhan.

Sementara itu pada akhir abad ke-20 para ilmuan mengamati adanya lubang hitam yang memiliki medan gravitasi sangat besar dan bahkan menarik cahaya masuk ke dalamnya, benda inilah yang disebut sebagai Black Hole. Jadi dikaitkan dengan fenomena tertariknya materi termasuk cahaya ke dalam lubang hitam ini, penulis mengajukan hipotesa dengan nama baru sesuai dengan konsep penciptaan dan peleburan alam semesta versi Veda, yaitu konsep Black Hole – White Hole. Meskipun pada kenyataannya saat ini belum satupun ilmuan yang mengamati keberadaan White Hole, White Hole barulah sebuah teori yang dihasilkan dari pemodelan Relativitas umum.

Black Hole adalah sebagai lubang tempat materi (aditi) kembali berubah menjadi energi (daksa) dan White Hole adalah lubang tempat energi (daksa) berubah menjadi materi (aditi). Dari satu White Hole akan terbentuk gelembung besar yang pada akhirnya membentuk satu alam semesta yang antara satu alam semesta dengan alam semesta lainnya masing-masing dibatasi oleh tegangan permukaan/lapisan yang sangat kuat [lihat Srimad Bhagavatam (3.11.41) ].

Dalam satu alam semesta sendiri juga terbentuk gelembung-gelembung (phena) yang memberi jarak yang tidak merata antara satu susunan galaksi dengan yang lainnya [lihat Satapatha Brahmana 6.1.3.2] Sementara itu di jagat raya terdapat jutaan White Hole yang masing-masing memunculkan satu gelembung alam semesta. Akankah fenomena White Hole belum teramati oleh teleskop tercanggih, Hubble sampai saat ini? White Hole muncul saat awal lahirnya alam semesta material. Hanya saja, apakah saat ini proses penciptaan alam material sebagaimana lahirnya alam semesta masih berlangsung?

Penciptaan Manusia dan Isi Bumi
Teori penciptaan Veda mengenai isi bumi dapat dilihat dalam kitab Veda Smriti yaitu Manawa Dharma sastra. disana disebutkan Brahman menciptakan mahlkuk hidup dan isi alam ini melalui tapaNya;
“kemudian Aku ingin menciptakan mahluk2 hidup, menjalankan tapa dengan maksud menciptakan sepuluh maharsi pemimpin dari mahluk hidup” - Manawa Dharmasastra 1.34
“mereka menjelmakan Tujuh Manu lagi yang memiliki cahaya cemerlang, para dewa dengan tingkat2annya dan maharsi yang memiliki kekuatan batin yang tinggi” - Manawa Dharmasastra 1.36
“diciptakan pula para yaksa, raksasa dan banyak tingkatan roh, kilat, guruh, mendung, pelangi, hujan, suara2 gaib, bintang2 yang bergerak serta sinar2 langit yang beraneka ragam. para kinnara, tumbuhan, berbagai jenis ikan, kura2, burung2, binatang, manusia dan segala macam benda2 tak bergerak. demikian semua ciptaan yang bergerak maupun tak bergerak, diciptakan oleh MahaAtma dengan kekuatan tapanya, semuanya atas perintahKu dan menurut hasil daripada perbuatannya” - Manawa Dharmasastra 1.37-41.
“ada Enam Manu lagi yang berjiwa suci dan berpikiran sangat tinggi, yang menjadi warga manu keturunan dari Swayambhu Manu yang telah menjadikan semua mahluk hidup di dunia ini” - Manawa Dharmasastra 1.61
“ketujuh Manu yang gemilang ini yang pertama adalah Swayambhu Manu, mengadakan dan melindungi semua mahluk hidup dan benda mati di dunia ini sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan baginya” - Manawa Dharmasastra 1.63

Dalam agama Hindu, Manu adalah pemimpin setiap Manwantara, yaitu suatu kurun zaman dalam satu kalpa. Ada empat belas Manwantara, sehingga ada empat belas Manu. Daftar para Manu dipaparkan di bawah ini dari manu pertama sampai manu ke empat belas; Swayambu, Swarocisa, Utama, Tamasa, Raiwata, Caksusa, Waiwaswata, Sawarni, Daksasawarni, Brahmasawarni, Darmasawarni, Rudrasawarni, Rocya atau Dewasarni dan Botya atau Indrasawarni. Zaman sekarang adalah Manwantara ketujuh dan oleh Manu ketujuh yang bergelar Waiwaswata Manu. Jadi, tujuh Manwantara lainnya akan terjadi di masa depan, dan dipimpin oleh seorang Manu yang baru. Menurut Hindu, keberadaan alam semesta tak lepas dari siklus kalpa. Satu kalpa berlangsung selama jutaan tahun, dan satu kalpa terdiri dari empat belas Manwantara (siklus Manu).

Manu yang pertama adalah Swayambu Manu, sebagai kakek moyang manusia. Swayambu Manu menikah dengan Satarupa dan memiliki keturunan. Anak cucu dari Manu disebut Manawa (secara harfiah berarti keturunan Manu), merujuk kepada manusia zaman sekarang. Menurut agama Hindu, Swayambu Manu dan Satarupa merupakan pria dan wanita pertama di dunia .

Waiwaswata Manu, atau Manu yang sekarang, dikatakan merupakan putra dari Surya (Wiwaswan), yaitu dewa matahari menurut mitologi Hindu. Waiwaswata Manu terlahir pada zaman Satyayuga dan mendirikan kerajaan bernama Kosala, dengan pusat pemerintahan di Ayodhya. Ia memiliki sepuluh anak: Wena, Dresnu (Dresta), Narisyan (Narisyanta), Nabaga, Ikswaku, Karusa, Saryati, Ila, Persadru (Persadra), dan Nabagarista. Dalam kitab Matsyapurana, ia muncul sebagai raja yang menyelamatkan umat manusia dari bencana air bah setelah mendapat pesan dari Wisnu yang berwujud ikan (Matsya Awatara). Cerita penyelamatan raja dan mahluk hidup ini sangat mirip dengan riwayat Nabi Nuh (kisah perahu Noah/Nuh dalam torah) yang menyelamatkan mahluk hidup dari bencana air bah.

Manwantara (Sanskerta: मन्वन्तर ) adalah satuan waktu dalam agama Hindu yang terdiri dari 71 Mahayuga. Menurut mitologi Hindu, bila 14 Manwantara telah berlalu, maka seluruh dunia akan dihancurkan. Saat ini, sudah enam manwantara berlalu dan zaman sekarang adalah manwantara ketujuh. Jadi, masih ada tujuh manwantara lagi sebelum dunia dihancurkan.

Menurut kitab Purana, dunia terbagi menjadi empat zaman, diawali oleh Satyayuga (zaman kebenaran), dan diakhiri oleh Kaliyuga (zaman kegelapan). Setelah Kaliyuga berakhir, dimulailah Satyayuga yang baru. Demikian seterusnya dan siklus dari zaman Satyayuga menuju Kaliyuga disebut Mahayuga. Menurut kitab Brahmapurana, satu Mahayuga berlangsung selama 12.000 tahun para dewa atau 4.320.000 tahun manusia.

Secara singkat diuraikan sebagai berikut:
Satyayuga (1.728.000 tahun), Tretayuga (1.296.000 tahun), Dwaparayuga (864.000 tahun), Kaliyuga (432.000 tahun), Sehinga lama Mahayuga (4.320.000 tahun)

71 Mahayuga membentuk satu manwantara. Dengan demikian, lama berlangsungnya 1 manwantara dapat dihitung sebagai berikut:
  • 1 Mahayuga = 4.320.000 tahun
  • 71 Mahayuga = 1 Manwantara
  • 1 Manwantara = 71 × 4.320.000 tahun = 306.720.000 tahun
Maka, satu manwantara berlangsung selama 306.720.000 tahun. Setelah 14 manwantara berlangsung, maka tercapailah periode satu Kalpa. Alam semesta dihancurkan setiap periode satu Kalpa. Menurut berbagai kitab Purana, zaman sekarang adalah manwantara ketujuh, berarti enam manwantara telah berlalu dan masih ada tujuh manwantara lagi sebelum dunia dihancurkan.

mengenai kiamat juga sudah dijelaskan dalam Veda, bahwa kiamat itu sendiri sudah biasa dan sudah pernah terjadi berulang-ulang kalinya;
“mawantara2, penciptaan dan kiamatnya dunia ini telah ber-ulang2 kali” Manawa Dharmasastra 1.80



Teori Penciptaan Modern

Teori Big Bang adalah salah satu pengembangan model kosmologi homogen dan uniform yang didasarkan pada relativitas Einstein, de Sitter dan Fiedmann. Dengan pertimbangan tersebut, pemilihan unit untuk dispersi massa-energi menjadi sangat penting. Kita tahu bahwa planet-planet dan bintang-bintang tidaklah terdistribusi merata. Para ilmuwan memilih skala yang lebih besar, pada awalnya dipercayai galaksi tersebar secara merata diseluruh angkasa luar.

Ketika Hubble melakukan survey pada 44,000 galaksi, Sayangnya ia tidak menemukan distribusi merata, bahkan ia menemukan pengelompokan (clustering). Penelitiannya dilanjutkan oleh Fritz Zwicky pada tahun 1938 yang menemukan juga bahwa galaksi mengelompok dan tidak terdistribusi merata. Hal ini yang mendasari bahwa kelompok galaksi (cluster of galaxies) adalah unit yang cocok dan kelompok galaksi ini tersebar secara merata di angkasa.

Galaksi kita, Bima Sakti, adalah bagian dari kelompok dua puluh lima galaksi. Astronomer Perancis Gerard de Vaucouleurs melakukan penelitian dalam skala yang lebih besar lagi pada tahun 1950, dan menemukan bahwa kelompok galaksi juga tidak terdistribusi merata. Ia mengelompokkan galaksi dalam supercluster yang mempunyai rentang 200 juta-tahun-cahaya. Para ilmuwan kemudian percaya bahwa supercluster galaksi ini adalah unit yang lebih tepat karena semesta tampak terdistribusi merata. Tapi ada lagi penemuan baru yang mendapatkan bahwa supercluster terletak pada gelembung raksasa. Di dalam gelembung adalah rongga besar tanpa ada galaksi hampir tak ada massa dan energi.
Uniknya Veda mempunyai referensi tentang struktur raksasa ini pada Satapatha Brahmana:
“Ketika Apah dipanaskan, gelembung (Phena) tercipta” - Satapatha Brahmana 6.1.3.2

Definisi Apah sudah dijelaskan di atas bahwa itu bukan semata-mata air. Ada cukup referensi untuk membuktikan bahwa orang suci Veda menganggap Apah melingkupi seluruh alam semesta. Dengan tanpa mengetahui arti sains dari Apah, semua agama dan mitologi membicarakan alam semesta yang ditutupi oleh air pada awal penciptaan.

Mantram yang dikutip diatas, dengan jelas membuktikan bahwa orang suci Veda berpendapat bahwa tegangan permukaan bekerja sehingga Apah menjadi berbentuk gelembung. Ditemukannya gelembung raksasa dalam skala besar pada struktur alam semesta membuktikan adanya tegangan permukaan dalam evolusi semesta.

Karena ilmu pengetahuan modern gagal memasukkan tegangan permukaan dalam teori Big Bang, tak heran setelah tujuh puluh tahun riset yang terus menerus belum juga mampu memprediksi evolusi alam semesta.

Sebabnya jelas. Seluruh framework Big Bang adalah salah.

Pada dasarnya teori relativitas umum, interval ruang-waktu itu adalah sebuah pemecahan dari persamaan medan gravitasi Einstein di luar sebuah distribusi materi. Interval dari sebuah ruang-waktu dalam teori relativitas umum selalu mempunyai sebuah singularitas. Singularitas ini mengindikasikan keberadaan sebuah benda yang sangat masif yang dinamakan lubang hitam (black hole). Benda yang berperilaku menyerupai sebuah lubang hitam tetapi dengan arah waktu yang dibalikkan (time reversed black hole) dinamakan sebuah lubang putih (white hole). Persamaan medan gravitasi Einstein mengandung sebuah konstanta kosmologi yang sampai sekarang masih menimbulkan berbagai macam kontroversi. Teori relativitas umum inilah yang mendasari semua model kosmologi relativistik yang menjelaskan struktur dari sebuah alam semesta berskala besar, hanya saja sampai saat ini teori White Hole – Black Hole belum dipandang sebagai suatu kosmologi penciptaan yang diakui sebagaimana teori penciptaan Big Bang. Dan kinilah saatnya Teori White Hole – Black Hole yang dibenarkan dalam ayat-ayat Veda menjadi alternatif Teori Penciptaan Modern.

mungkin dari ulasan tersebut diatas masih ada kekurangan, mohon teman2 menambahkan agar artikel ini menjadi lbih lengkap. thx

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan Dewasa, merupakan Ilmu astronomi ala Bali

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.

Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.

Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
didalilkan sebagai berikut:
  •  Wewaran dikalahkan oleh wuku 
  • Wuku dikalahkan oleh tanggal panglong 
  • Tanggal panglong dikalahkan oleh sasih 
  • Sasih dikalahkan oleh dauh 
  • Dauh dikalahkan oleh de Ning (keheningan hati).

Untuk dapat memahami hubungan kesemuanya itu perlu mempelajari arti wewaran dan hubungannya dengan alam ghaib.

Wuku
Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite).
1 tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.
Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut;
Sita, landep, ukir, kilantir, taulu, gumbreg, wariga, warigadean, julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medangsia, pujut, Pahang, krulut, merakih, tambir, medangkungan, matal, uye, menial, prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut dan watugunung.

Wewaran
Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dll. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Siklus ini dikenal misalnya dalam sistim kalender hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut;
  1. Eka wara; luang (tunggal) 
  2. Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup). 
  3. Tri wara; pasah, beteng, kajeng. 
  4. Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah). 
  5. Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur). 
  6. Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak). 
  7. Sapta wara; redite (minggu), soma (senin), Anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), Taru (kayu), sato (binatang), patra ( tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung). 
  8. Asta wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara). 
  9. Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi). 
  10. Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), eraja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras)

Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentuk ukuran baik buruknya suatu hari. Nilai itu disebut “urip” atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Tanggal dan Panglong
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).

Sasih
Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. adapun pembagian sasih tersebut adalah;
  • Kedasa = Mesa = Maret – April.
  • Jiyestha = Wresaba = April – Mei.
  • Sadha = Mintuna = Mei – Juni.
  • Kasa = Rekata = Juni– Juli.
  • Karo = Singa = Juli –Agustus.
  • Ketiga = Kania = Agustus – September.
  • Kapat = Tula = September – Oktober.
  • Kelima = Mercika = Oktober – November.
  • Kenem = Danuh = November – Desember.
  • Kepitu = Mekara = Desember – Januari.
  • Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
  • Kesanga = MIna = Februari – Maret.

Dauh/dedauhan
Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIB). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;
  • Redite = Siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00 
  • Coma = Siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06 
  • Anggara = Siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00 
  • Buda = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06 
  • Wraspati = Siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30 
  • Sukra = Siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30 
  • Saniscara = Siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30