"OM AWIGNAMASTU NAMA SIDDHEM OM SWASTIASTU" SEMOGA SEMUA DALAM PERLINDUNGAN TUHAN, SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGHA BERMANFAAT.jangan lupa kunjungi videobsaya di link https://youtu.be/-UJdPDAjETM

12/23/2012

Unsur-Unsur Pembangun Cerpen



Sebagai salah satu bentuk karya fiksi, cerpen tampil utuh dan lengkap karena dibangun oleh dua unsur pembangun, yaitu: Unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik merupakan unsur pembangun yang berasal dari dalam tubuh karya sastra, yang meliputi: tema, amanat, alur atau plot, penokohan,  setting atau latar, gaya bahasa, dan sudut pandang. Unsur Ekstrinsik merupakan segala macam unsur yang berada di luar suatu karya sastra yang ikut mempengaruhi kehadiran suatu karya sastra, seperti faktor sosial,ekonomi, budaya, politik, keagamaan dan tata nilai masyarakat. Selanjutnya akan dipaparkan bagian-bagian dari unsur intrinsik tersebut sebagai berikut.  
 1. Tema
Sumardjo (1984:57) berpendapat bahwa tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita. Pengarang atau sastrawan tidak semata-mata menyatakan apa yang menjadi inti permasalahan karyanya. Cerita bukan hanya sekadar berisi rentetan kejadian yang disusun dalam sebuah bagan, tetapi susunan bagan itu sendiri harus mempunyai maksud tertentu. Tema adalah suatu gagasan sentral yang menjadi dasar tolak penyusunan karangan dan sekaligus menjadi sasaran dari karangan tersebut (Baribin,1985:59). Yang menjadi unsur gagasan sentral, yang kita sebut tadi adalah topik atau pokok pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai oleh pengarang dengan topiknya tadi.
Jika kita membaca cerita rekaan, sering terasa bahwa pengarang tidak sekadar ingin menyampaikan sebuah cerita demi bercerita saja. Ada sesuatu yang dibungkusnya dengan cerita; ada suatu konsep sentral yang dikembangkan dalam cerita itu. Alasan pengarang hendak menyajikan cerita ialah hendak mengemukakan suatu gagasan. Gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasari suatu karya sastra itu yang disebut tema (Sudjiman, 1988:50). Adanya tema membuat karya lebih penting daripada sekadar bacaan hiburan. Istilah tema menurut Scharbach (dalam Aminuddin, 2000:91) berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘tempat meletakkan suatu perangkat’. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diceritakannya (Aminuddin, 2000:91) Esten (2000:22) berpendapat bahwa tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran, sesuatu yang menjadi persoalan bagi pengarang.
Tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta sastra. Ia masih bersifat netral, belum punya kecenderungan memihak karena ia masih merupakan persoalan Pendapat yang hampir sama juga dijelaskan oleh Sayuti (2000:187) bahwa tema merupakan gagasan sentral, yakni sesuatu yang hendak diperjuangkan dalam dan melalui karya fiksi. Wujud tema dalam fiksi biasanya berpangkal pada alasan tindak atau motif tokoh. Tema sering disebut juga dasar cerita, yakni pokok pemasalahan yang mendominasi suatu karya sastra. Hakikatnya tema adalah permasalahan yang merupakan titik tolak pengarang dalam menyusun cerita atau karya sastra tersebut, sekaligus merupakan permasalahan yang ingin dipecahkan pengarang dengan karyanya itu (Suharianto, 2005:17).
2. Amanat
Menurut Sudjiman (1988:57) amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Jika permasalahan yang diajukan dalam cerita itu diberikan jalan keluarnya oleh pengarang maka jalan keluarnya itulah yang disebut amanat. Amanat dalam karya sastra oleh pengarang dapat disampaikan secara eksplisit maupun implisit.
Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasihat, anjuran, larangan, dan sebagainya, berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Esten (2000, 22). Esten menjelaskan bahwa amanat itu adalah pemecahan suatu tema.

   3. Alur atau Plot
Unsur yang sangat menonjol, dalam sebuah karya fiksi adalah jalannya cerita. Fiksi di mulai dengan menceritakan suatu keadaan. Keadaan itu mengalami perkembangan dan pada akhirnya ditutup dengan sebuah penyelesaian, dan itulah yang dinamakan plot. Baribin (1985:61) menjelaskan bahwa alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun secara logis. Dalam pengertian ini, alur merupakan suatu jalur tempat lewatnya rentetan peristiwa yang tidak terputus-putus. Sudjiman (1988:29) juga menjelaskan bahwa dalam sebuah cerita rekaan, berbagai peristiwa disajikan dalam urutan tertentu dan peristiwa yang diurutkan itu membangun tulang punggung cerita yang disebut alur.
Pengertian alur dalam karya fiksi pada umumnya adalah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita (Aminuddin, 2000:83). Menurut Sayuti (2000:31), plot atau alur fiksi hendaknya diartikan tidak hanya sebagai peristiwa-peristiwa yang di ceritakan dengan panjang lebar dalam suatu rangkaian tertentu, tetapi juga merupakan penyusunan yang dilakukan oleh penulisnya mengenai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan hubungan-hubungan kwalitasnya.
 Menurut Esten (1978:26) plot adalah urutan (sambung sinambung)  peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Biasanya plot dari cerita rekaan terdiri terdiri atas:
a). Situasi (mulai melukiskan keadaan).
b). Generating circumstances (peristiwa-peristiwa mulai bergerak)
c).  Rising action (keadaan mulai memuncak).
d). Klimaks (mencapai titik puncak).
e). Denouement (pemecahan soal, penyelesaian).
Secara kualitatif (menurut tingkatannya) alur ada dua macam yaitu:
a). Alur erat
b). Alur longgar
Dalam alur erat, hubungan satu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya padu sekali, sehingga tidak dapat dipotong-potong. Dalam alur longgar, hubungan satu peristiwa satu dengan yang lain tidak begitu padu.
Alur atau plot ialah cara pengarang menjalin kejadian-kejadian secara beruntun dengan memperhatikan hukum sebab akibat sehingga merupakan kesatuan yang terpadu, bulat, dan utuh (Suharianto, 2005:18).

4. Penokohan
Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh, sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan  (Aminuddin,2000:79). Penokohan ialah bagaimana cara pengarang  menggambarkan dan mengembangkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan (Esten, 2000:27). Penokohan yang baik ialah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki oleh tema dan amanat.
Penokohan atau perwatakan ialah pelukisan mengenai tokoh cerita; baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat-istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto, 2005:20). Karena tokoh-tokoh itu rekaan pengarang, maka hanya pengaranglah yang mengenal mereka dan oleh karena itu, tokoh-tokoh itu perlu digambarkan ciri-ciri lahir dan sifat serta sikap batinnya agar wataknya juga dikenal oleh pembaca. Yang dimaksud dengan watak ialah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar