"OM AWIGNAMASTU NAMA SIDDHEM OM SWASTIASTU" SEMOGA SEMUA DALAM PERLINDUNGAN TUHAN, SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGHA BERMANFAAT.jangan lupa kunjungi videobsaya di link https://youtu.be/-UJdPDAjETM

1/18/2013

HAKIKAT PUISI



Beberapa pakar telah mengemukakan pendapat tentang arti sebuah puisi, jelaslah bagi kita betapa sukarnya memberikan batasan yang tepat terhadap kata puisi tersebut. Namun demikian bukanlah menjadi alasan untuk tidak mungkin untuk mendekati puisi dengan baik, sebab masih ada sifat-sifat utama yang dimilikinya untuk mengerti dan memahami sebuah puisi.
I.A. Richards dalam Siswanto, menyatakan “puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema, rasa, nada, dan amanat” (2008:124). Seirama dengan pendapat di atas, Rai Putra menyatakan hakikat puisi terdiri atas tema atau makna, rasa (feeling), nada, dan tujuan (2010:06).
Dari pendapat pakar di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat puisi terdiri atas: 1) tema atau makna (sense); 2) rasa (feeling); 3) nada (tone); dan 4) amanat atau tujuan (intention). Keempat unsur tersebut merupakan catur tunggal, karena unsur satu dengan yang lainnya memiliki hubungan yang sangat erat. Berikut ini akan diuraikan hakikat dari sebuah puisi. 
   Tema atau Makna (sense)
            Siswanto mendifinisikan, tema adalah gagasan pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi. Media puisi adalah bahasa. Karena bahasa berhubungan dengan makna maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun keseluruhan (2008:124).
            Rai Putra menyatakan, penyair dengan puisinya ingin mengemukakan sesuatu bagi para penikmatnya. Sang penyair ingin mengemukakan pengalaman-pengalamannya kepada para penikmat. Intinya puisi mengandung subject matter. Makna yang dikandung suatu subject matter disebut dengan makna (sense) dari puisi (2010:06).
            Sang penulis atau penyair melihat atau mengalami suatu peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Sehubungan dengan peristiwa itu, ia ingin mempermasalahkan hal-hal tersebut dengan cara sendiri kepada para pembaca atau penikmat puisi. Hal ini dilakukan karena karena setiap puisi mengandung subject matter untuk dikemukakan atau ditonjolkan dan hal tersebut tergantung dengan beberapa faktor seperti: lingkungan, agama, pekerjaan, pendidikan dari penyair. Tidak ada puisi tanpa subject matter, hanya saja sang penyair sangat lihai menyelubungi sehingga para penikmat atau pembaca puisi harus berusaha sekuat daya untuk menyikapi dan mengungkapkannya. 
Rasa (feeling)
Rasa dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisi (Siswanto, 2008:124). Dalam hal ini mengacu pada sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang dituangkan di dalam karyanya. Ada penyair yang menaruh sikap simpatik serta penuh belas kasihan terhadap objek permasalahan, ada juga penyair menaruh rasa benci, sikap marah/jengkel dan sebagainya.

Nada (tone)
Nada dalam puisi adalah sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan erat dengan tema dan rasa (Siswanto, 2008: 125). Sikap penyair yang hendak ditanamkan terhadap pembaca karya puisinya berkaitan dengan emosional pengarang.
Amanat atau Tujuan (intention)
Amanat dalam puisi adalah pesan dan kesan yang hendak disampaikan penyair kepada pembaca lewat karya-karyanya berupa puisi. Untuk menemukan pesan dan kesan dalam puisi sangat tergantung kepada pengalaman pembaca dan cara pandang pembaca terhadap puisi tersebut. Misalkan penyairnya seorang guru, maka dalam karya puisinya tersebut mengarah kedunia pendidikan. Dan jika kebetulan penyairnya seorang pendeta dan ulama, maka dalam karya puisinya akan lebih menonjolkan tentang hal-hal yang bersifat ajaran keagamaan (dharma).
Metode Puisi
Para penyair ingin mengungkapkan sesuatu dengan jelas dan seluas mungkin, namun dengan kata yang sesedikit mungkin. Untuk maksud tersebut diperlukan suatu metode yang baik beserta sarana-sarana yang diperlukan. Menurut Siswanto, metode dalam pusi meliputi: 1) perwajahan puisi, 2) diksi, 3) pengimajian, 4) kata konkret, 5) majas atau bahasa figuratife, dan 6) verifikasi (2008: 113).
Perwajahan Puisi (Tipografi)
Perwajahan dalam puisi adalah pengaturan dan penulisan kata, larik dan bait dalam puisi. Perwajahan puisi juga bisa mencerminkan maksud dan jiwa pengarangnya (Siswanto, 2008: 113). Pengaturan baris dalam puisi sangat berpengaruh terhadap maknaan puisi, karena menentukan kesatuan makna, dan juga berfungsi untuk memunculkan ketaksaan makna (ambiguitas). Setiap satu larik tidak selalu mencerminkan suatu pernyataan. Bisa saja pernyataan ditulis dalam satu atau dua larik. Misalnya, puisi kontemporer tifografinya bisa membentuk suatu gambar biasanya disebut dengan puisi konkret.
Diksi
Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Pilihan kata dalam karya puisi sangat penting. Kalau dipandang sepintas lalu, kata-kata yang digunakan dalam puisi pada umumnya sama saja dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, perlu diingat bahwa penempatan serta penggunaan kata dalam puisi dengan hati-hati dan teliti serta tepat.
Pemilihan kata berhubungan erat dengan latar belakang penyair. Semakin luas wawasan penyair, semakin kaya dan berbobot kata-kata yang digunakan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan betapa pentingnya diksi bagi suatu karya puisi. Pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan, membiaskan ruang, falsafah, amanat, efek, nada suatu puisi dengan tepat.
Imaji
Imaji adalah kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan (Siswanto, 2008:118). Pendapat lain, imaji adalah segala yang dirasakan atau yang dialami secara imajinatif (Rai Putra, 2010:07). 
Imaji berhubungan erat dengan kata konkret. Pilihan kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia, sehingga mendorong imajinasi atau daya bayang untuk mengungkapkan gambaran nyata dalam bentuk puisi.
Jadi, segala yang dirasakan atau dialami secara imajinatif dikenal dengan istilah imaji (imagery). Penyair berusaha membangkitkan pikiran dan perasaan para penikmat sehingga mereka merasa bahwa merekalah yang mengalami peristiwa perasaan jasmani dan sebagainya. 
Kata Konkret
Kata konkret dalam puisi adalah kata-kata yang dapat ditangkap dengan indera. Dengan kata konkret akan memungkinkan imaji muncul (Siswanto, 2008:119).
Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau imajinasi para penikmat puisi adalah dengan mempergunakan kata-kata yang tepat, kata-kata yang konkret, yang dapat menyarankan suatu pengertian yang menyeluruh. Semakin tepat penyair memakai kata-kata yang penuh asosiasi, maka semakin baik dalam menjelmakan imaji, sehingga penikmat menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan, pendeknya mengalami segala sesuatu yang dialami oleh penyair. 
Bahasa Figuratif (Majas)
Cara lain untuk membangkitkan imajinasi adalah dengan memanfaatkan majas, yang merupakan bahasa kias atau gaya bahasa. Para penyair menggunakan berbagai majas untuk menjelmakan imajinasinya. Setiap orang terkadang ingin menyampaikan pendapat, pikiran dengan sejelas-jelasnya kepada orang lain dengan kata-kata saja belumlah begitu jelas, oleh karena itu dipergunakan gaya persamaan, perbandingan, serta kata-kata kias lainnya. Demikian pula para penyair mempergunakan aneka ragam majas untuk memperjelas maksud serta menjelmakan imaji.
Verifikasi (Rima, Ritma, dan Metrum)
Verifikasi dalam puisi terdiri atas rima, ritma, dan metrum (Siswanto, 2008: 121).
Dalam hal ini, beliau memberikan pengertian rima dalam puisi adalah persamaan bunyi pada puisi baik di awal, tengah, maupun akhir baris puisi. Ritma merupakan tinggi-rendah , panjang pendek, keras-lemahnya bunyi. Sedangkan istilah metrum disamakan dengan rima.
            Ritma dan Rima memiliki pengaruh yang sangat besar untuk memperjelas makna puisi. Erat sekali hubungannya dengan tema, rasa, nada, dan tujuan atau maksud dari karya puisi.
Kerangka Berpikir
Keterampilan menulis puisi Bali dengan pengamatan objek secara langsung menekankan pada pembelajaran yang berdasarkan situasi yang nyata. Siswa diarahkan pada penguasaan materi secara langsung, penguasaan kosa kata yang lebih banyak, serta dekat dengan lingkungan belajar siswa. Ini berarti siswa diajarkan materi belajar yang bersifat konkret, maka prestasi belajar siswa khususnya dalam menulis puisi Bali juga akan semakin baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar